Pernahkah Anda terpikirkan atau bertanya, "Bagaimana cara peradaban Islam menyesuaikan dengan perkembangan zaman terkait teknologi?"
Perlu dipahami begini. Terminologi "perkembangan zaman" itu bisa diperdebatkan. Apanya yang berkembang? Faktanya kan hanya sarana pemenuhan kebutuhan fisik saja. Dan terminologi ini memang dikembangkan berdasarkan paradigma berpikir kapitalistik, ketika dikaitkan dengan teknologi. Seperti apa? Teori kelangkaan, bahwa suplai barang terbatas sementara keinginan manusia tidak terbatas. Keinginan terkait apa? Pemuasan kebutuhan fisik.
Dalam hal ini, kapitalisme memang juara dalam pemenuhan kebutuhan fisik, karena akidah rusak mereka membuat kebahagiaan hakiki mustahil tercapai. Pemisahan agama dari kehidupan, hingga sampai tahap ateistik, melanggar fitrah manusia yang memiliki gharizah at-tadayyun. Hidup manusia kapitalis gelisah, tidak terpuaskan. Pada akhirnya, ketidakpuasan ini memaksa kapitalisme mengembangkan teknologi pemuas jasmani secepat dan semasif mungkin untuk memuaskan kekosongan jiwa para penganutnya.
Dalam kapitalisme, produk teknologi itu tidak didesain untuk bertahan lama, tetapi untuk cepat diganti. Teknologi dikembangkan agar semakin efisien untuk membuka ruang semakin lebar bagi manusia untuk menikmati berbagai macam produknya. Pengembang teknologi membuat propaganda bahwa "dunia berubah semakin cepat" untuk meningkatkan sifat konsumtif masyarakat, yang bagi para kapitalis dapat memberikan kepuasan fisik berupa harta, dan bagi konsumen kepuasan fisik berupa "teknologi terbaru untuk memudahkan hidup." Fasilitas kesehatan semakin canggih, harapan hidup semakin panjang, semua diraih oleh kapitalisme dengan harapan dapat semakin lama menikmati kepuasan jasmani.
Demikianlah kapitalisme. "Perkembangan zaman" alias "perkembangan teknologi" diakselerasi sangat cepat, lebih cepat dari sejarah peradaban manusia manapun, karena para pengembannya telah melanggar fitrahnya sebagai manusia. Kemajuan fisik yang dihasilkan memang luar biasa, tetapi collateral damage yang dihasilkan tidak kalah mengerikan.
Paradigma Islam jelas tidak bisa disamakan dengan paradigma kapitalisme itu. Karena kebahagiaan dalam Islam bukan berasal dari alat pemuas jasmani sebagaimana dalam kapitalisme, melainkan dengan mencapai ridha Allah. Teknologi hanya sarana untuk mendapatkannya, bukan sumber kebahagiaan. Seperti sistem kesehatan yang berkontribusi dalam memperpanjang harapan hidup. Maka tujuannya bukanlah agar manusia mampu menikmati kepuasan fisik lebih lama, melainkan agar manusia dapat lebih lama beribadah pada Allah dalam rangka mencari ridhaNya.
Maka, term "perkembangan zaman" dalam hal teknologi sebenarnya masih bisa dipertanyakan relevansinya dalam konteks Islam. Tujuan pengembangan teknologi dalam kapitalisme dan Islam sangat bertolak belakang. Jika Islam memandang teknologi hanya sebagai sarana, bukan tujuan, maka sebenarnya Islam yang harus mengikuti perkembangan teknologi atau Islam yang harus mengendalikan perkembangan teknologi? Islam yang mengendalikan sarana atau sarana yang mengendalikan Islam?
Betul bahwa Islam itu terkenal sebagai peradaban pionir, bukan pengekor. Sejak era peradaban Islam yakni Khilafah, kemajuan sains dan teknologi Islam itu melampaui zamannya. Tapi kalau dilihat sejarah Khilafah, adakah penemuan sains dan teknologi itu untuk pemenuhan kepuasan jasmani sebagaimana sekarang? Tidak. Semua untuk keperluan terapan praktis dalam rangka ibadah. Al Khawarizmi merumuskan aljabar untuk mempermudah perhitungan waris. Al Biruni dan astronom muslim lain mengembangkan model astronomi untuk menentukan arah kiblat dan waktu shalat. Dan seterusnya. Itulah kenapa pada masa Khilafah, muadzin itu harus astronom, karena astronom lah yang memahami tentang kapan masuknya waktu shalat!

0 komentar:
Posting Komentar