Pernahkah Anda terpikirkan atau bertanya, "Bagaimana cara peradaban Islam menyesuaikan dengan perkembangan zaman terkait teknologi?"
Minggu, 15 Februari 2026
Selasa, 02 Desember 2025
Bencana Alam di Sumatra, Alami atau Efek Perbuatan Manusia?
Fenomena alam pada dasarnya terjadi secara alami (naturogenik) berdasarkan kondisi alam semesta mengikuti hukum alam/sunnatullah yang berlaku. Mekanisme terjadinya fenomena alam tidak dipengaruhi perbuatan manusia. Namun, kondisi alam semesta yang menjadi dasar kebolehjadian fenomena alam tersebut bisa dipengaruhi oleh manusia (antropogenik). Misalkan temperatur permukaan bumi yang naik sebagai akibat dari pembakaran energi fosil, maka kenaikan temperatur itu mengubah pola dan lokasi pembentukan siklon, karena terbentuknya siklon dipengaruhi oleh gradien temperatur udara.
Fenomena alam bisa menjadi bencana alam
jika fenomena tersebut menyebabkan kerusakan terukur pada lingkungan hidup.
Kerusakan yang terjadi bisa bersifat naturogenik, antropogenik, atau kombinasi
dari keduanya. Pada kondisi naturogenik, bencana alam terjadi ketika lingkungan
secara alamiah tidak mampu menampung atau memitigasi dampak dari fenomena alam
tersebut. Sebagai contoh, jika kapasitas penampungan air oleh tanah secara
alami hanya 100 mm per hari, tetapi curah hujan turun dengan laju 200 mm per hari.
Dalam kondisi itu, lebihan air akan mengalami tumpahan/runoff ke permukaan
tanah dan menyebabkan aliran air deras ke tanah yang lebih rendah dan dapat
berakibat pada banjir atau longsor.
Contoh lain adalah letusan gunung berapi.
Kapan gunung berapi meletus bergantung pada aktivitas geologis gunung tersebut
yang tidak bisa diprediksi persis kapan akan terjadi dan tidak terpengaruh
faktor luar. Maka, ketika gunung berapi meletus dan menyebarkan debu vulkanik
serta lahar panas ke berbagai penjuru yang kemudian merusak area hutan, hal
tersebut merupakan bencana alam naturogenik.
Bencana alam antropogenik terjadi ketika
perbuatan tangan manusia menjadi pemicu dari bencana tersebut. Sebagai contoh,
jika hutan hujan mampu menampung tumpahan air hingga 200 mm per hari, tetapi
curah hujan maksimum secara historis hanya 190 mm per hari, maka tidak akan
terjadi banjir atau longsor karenanya, karena lahan masih mampu menampung
tumpahan air tersebut. Namun, ketika hutan hujan tersebut ditebang untuk
dijadikan perkebunan sawit, hutan tanaman industri monokultur, atau kawasan
pertambangan, dengan luas area yang membuat daya tampung air di kawasan
tersebut berkurang dari 200 mm per hari menjadi 100 mm per hari, maka ketika
terjadi hujan deras dengan laju 150 mm per hari saja, fenomena tersebut akan
menyebabkan tumpahan air besar ke permukaan tanah, yang jika debitnya terlampau
besar, akan menyebabkan banjir hingga tanah longsor tanpa perlu curah hujan
melebihi nilai maksimum. Pada titik ini, bencana alam menjadi antropogenik.
Mengingat, jika penebangan melebihi degradasi daya tampung air minimum tersebut
tidak dilampaui, niscaya banjir dan longsor tersebut tidak akan terjadi.
Bencana alam juga bisa merupakan kombinasi
dari aspek naturogenik dan antropogenik. Contoh, terbentuknya siklon yang
membawa uap air dalam volume sedemikian besar sehingga menyebabkan curah hujan
melonjak menjadi 210 mm per hari. Secara alamiah, curah ini sudah melebihi daya
tampung alamiah tanah yang ditopang hutan sebesar 200 mm per hari. Dalam
kondisi ini, akan terjadi tumpahan air di permukaan tanah yang lajunya
bergantung pada luas area terdampak. Kerusakan akan terjadi, tetapi mungkin
masih bisa ditekan karena selisih kapasitasnya "hanya" 10 mm per
hari.
Hanya saja, jika daya tampung tersebut
berkurang dari 200 mm per hari menjadi 150 bahkan 100 mm per hari akibat
pembukaan lahan yang signifikan, maka yang terjadi adalah pemburukan kerusakan
akibat bencana, karena selisih dengan daya tampung air meningkat dari 10 mm per
hari menjadi 60-110 mm per hari. Debit tumpahan air naik secara linier terhadap
selisih daya tampung, sehingga dampak kerusakan bisa naik berkali lipat.
Hal ini dapat diperparah oleh anomali dalam
pembentukan siklon tropis; siklon yang tidak pernah terbentuk di area
khatulistiwa dan di badan air sempit mendadak terbentuk di dekat ekuator di
atas selat. Dalam iklim bumi normal pra-revolusi industri, hal ini secara hukum
alam mustahil terjadi karena kondisi pembentukannya tidak terpenuhi. Namun,
setelah bumi memanas akibat penumpukan gas rumah kaca di atmosfer, sebagai
akibat dari pembakaran bahan bakar fosil (batubara dan migas, dalam jumlah
kecil biomassa), temperatur permukaan bumi naik dan mengacaukan siklus iklim.
Sehingga, apa yang tidak mungkin terjadi secara alami 300 tahun lalu, menjadi
mungkin terjadi saat ini.
Dalam kondisi ini, fenomena alam yang
menyebabkan bencana dapat terbentuk karena perubahan iklim yang bersifat
antropogenik. Hal ini semakin menguatkan campur tangan manusia dalam bencana
kombinasi naturogenik-antropogenik tersebut.
Dalam kondisi bencana terjadi secara
naturogenik, manusia tidak bisa dituntut akuntabilitasnya karena kejadian ini
merupakan kejadian yang berada di luar kendalinya (musayyar). Beda
halnya dengan bencana antropogenik, atau bencana kombinasi
naturogenik-antropogenik, maka manusia ada andil dalam menyebabkan bencana itu
terjadi. Bencana antropogenik sudah cukup jelas, karena bencana tersebut tidak
akan terjadi jika manusia tidak melakukan disrupsi terhadap daya tampung alami
lingkungan terhadap fenomena alam. Manusia berperan penuh dalam bencana
antropogenik (mukhayyar), dan semua yang terlibat di dalamnya harus
bertanggungjawab, mulai dari perencana, pemberi izin, hingga pelaksana, baik di
dunia maupun di akhirat. Demikian pula bencana kombinasi
naturogenik-antropogenik, peningkatan level keparahan bencana akibat intervensi
manusia terhadap daya tampung alami lingkungan adalah tanggungjawab para
perencana, pemberi izin, hingga pelaksana perusakan lingkungan tersebut.
Bencana alam yang terjadi di Sumatra jelas
bukan bencana naturogenik. Bencana ini merupakan bencana kombinasi
naturogenik-antropogenik. Anomali pembentukan siklon yang kemungkinan besar
disebabkan oleh perubahan iklim antropogenik, menyebabkan fenomena naturogenik
dengan dampak lebih tinggi daripada daya tampung alami lingkungan. Hal ini
kemudian diperparah dengan penurunan daya tampung alamiah sebagai akibat dari
penggundulan hutan untuk pertambangan, penjualan kayu, serta hutan tanaman
industri. Akibat dari resiliensi lingkungan yang turun ini adalah daya rusak
bencana menjadi lebih buruk dan tidak dapat ditanggulangi oleh sumber daya yang
tersedia di daerah terdampak. Ditambah lagi, infrastruktur hunian,
transportasi, dan jaringan telekomunikasi tidak didesain untuk memiliki
resiliensi terhadap bencana.
Memang, dalam kondisi fenomena alam tidak
terduga seperti ini, kerusakan infrastruktur sudah jelas akan terjadi. Namun,
ketiadaan resiliensi membuat kerusakan jadi tambah parah. Ditambah lagi, tidak
ada sistem peringatan bencana yang layak memadai, akibat badan yang
bertanggungjawab dalam deteksi bencana tidak diberdayai dengan sumber daya
finansial dan manusia yang mencukupi untuk membangun sistem deteksi dan
peringatan bencana memadai. Hal ini ditambah seringnya terjadi pencurian
terhadap komponen deteksi bencana oleh sebagian warga bermoral bangkrut, yang
menyebabkan fungsi deteksi dan kemudian peringatan bencana menjadi terhambat
hingga tidak berjalan.
Dengan demikian, tidak ada keraguan bahwa
bencana yang menimpa Sumatra bagian utara bukanlah murni bencana naturogenik.
Bencana ini adalah bencana kombinasi naturogenik-antropogenik, yang mana
manusia berkontribusi besar dalam peningkatan keparahan bencana. Pembabatan
hutan secara luas telah mengurangi kapasitas retensi air dalam tanah, sehingga
memicu terjadinya banjir besar yang menyebabkan ratusan korban jiwa, kehancuran
harta benda, hingga rusaknya infrastruktur penunjang kehidupan masyarakat.
Dari sini, pihak yang paling
bertanggungjawab adalah para pengusaha yang membabat hutan, para pemberi izin
pembabatan hutan, dan para pelaksana pembabatan hutan di lapangan. Selain itu,
sistem dan ideologi yang mengizinkan pembabatan hutan melebihi kapasitas
lestarinya pun wajib disingkirkan untuk mencegah bencana yang sama kembali
terulang. Demikian pula sistem dan ideologi yang berkontribusi utama dalam
menyebabkan perubahan iklim antropogenik dalam bentuk pembakaran energi fosil
tidak terkendali, selayaknya dibuang supaya kondisi bumi tidak bertambah buruk
di tengah krisis iklim global yang makin lama makin sulit untuk menemukan jalan
keluar.
Semoga Allah memberikan kesabaran dan
pertolongan-Nya pada mereka yang terdampak bencana naturogenik-antropogenik di
Sumatra, dan semoga Allah menjatuhkan hukuman-Nya pada para perusak alam
semesta yang telah Dia amanatkan kepengurusannya pada umat manusia.
Rabu, 01 Oktober 2025
Short FAQ Terkait Kontaminasi Radioaktif di Cikande
1. Apakah udang yang terkontaminasi Caesium-137 di Cikande itu berbahaya untuk dikonsumsi?
Tidak. Kontaminasinya jauh di bawah batas aman, radioaktivitasnya hanya sekian puluh Becquerel. Tidak lebih berbahaya daripada makan pisang, yang secara alami mengandung isotop radioaktif K-40.2. Kenapa kontaminasi bisa terdeteksi?
Karena detektor radiasi itu ultra-sensitif. Ada kenaikan paparan di atas paparan latar/radiasi alam saja bisa ketahuan. Tapi itu tidak menjelaskan bahaya atau tidaknya, hanya sekadar mendeteksi abnormalitas saja.
3. Dari mana sumber kontaminasinya?
Info yang dihimpun dari berbagai sumber, masalahnya ada di besi bekas/scrap iron yang dilebur di fasilitas peleburan logam di kompleks industri Cikande. Besi bekas itu, ternyata, terkontaminasi Caesium-137. Klaimnya, besi bekas itu diimpor dari Filipina.
4. Kenapa Caesium-137 bisa mengontaminasi udang dan lahan?
Karena sifatnya volatil. Walau Caesium adalah logam, dia meleleh di temperatur 27 °C dan menguap di temperatur 671 °C. Jadi sangat mungkin menyebar melalui udara dan tanah.
5. Bagaimana dengan kontaminasi di tanah?
Sifat volatil Caesium memungkinkan kontaminasi di tanah menetap dengan konsentrasi cukup tinggi dan memberikan paparan dalam level yang *dapat* membahayakan jika manusia berdiam diri di sana terlalu lama. Oleh karenanya, Bapeten mengidentifikasi beberapa titik kontaminasi dengan paparan tinggi dan memberi pembatas agar orang-orang tidak beraktivitas di sana. Nanti tanah terkontaminasi akan digali dan diangkut untuk diolah sebagai limbah radioaktif.
6. Apakah Caesium-137 dapat menyebabkan kanker?
Mungkin, dengan kondisi terpapar dosis sangat tinggi dalam waktu singkat, misalkan 1 Sievert selama 1 jam. Tapi progresinya tetap butuh waktu, tidak serta merta muncul. Untuk dosis radiasi di Cikande, kalau informasi yang saya dapat benar, maka seseorang harus berdiri di tanah terkontaminasi secara terus menerus selama 100 jam untuk meningkatkan risiko kankernya sebanyak 0,5%. Sementara, konsumsi udang terkontaminasi tidak ada kemungkinan menyebabkan kanker sama sekali. Jadi tergantung dosis.
Demikian.
Andika Putra Dwijayanto
Mahasiswa Doktoral Nuclear Engineering Institute of Science Tokyo
Minggu, 21 September 2025
Molten Salt Reactor di Asia Timur
Soal Asia Timur...
Cina dan Korea Selatan sudah terjun ke
teknologi Molten Salt Reactor (MSR), sementara Jepang masih belum kemana-mana.
Dulu, ada riset soal MSR-FUJI. Masalahnya,
teknologi ini kurang populer karena pemerintah Jepang lebih fokus pada
teknologi SFR dan HTGR. Sampai sekarang pun, setidaknya apa yang dikatakan oleh
sensei, pemerintah Jepang masih agak memandang sebelah mata soal teknologi MSR,
sehingga sulit mendapatkan anggaran dari 文部科学省
(baca: monbu-kagaku-sho) untuk riset.
MSR-FUJI sendiri berbasis pada thermal molten
salt reactor (TMSR) dengan daur bahan bakar thorium. Bedanya dengan molten salt
breeder reactor (MSBR) yang dikembangkan oleh Oak Ridge National Laboratory
(ORNL), MSR-FUJI didesain dengan berbagai fungsi, skala daya, dan daur bahan
bakar. Untuk FUJI-233U, bahan bakarnya menggunakan U-233 dan thorium, seperti
MSBR, tetapi dengan densitas daya super rendah supaya fluens netron cukup untuk
mencegah deformasi grafit selama 30 tahun operasional. Jadi untuk ukuran teras
reaktor yang besar dan bahan bahan bakar segambreng di dalam teras, daya
reaktornya kecil (250-350 MWt). Tidak ada sistem online reprocessing komplit
seperti yang direncanakan di MSBR, dan rasio pembiakan cuma 1,01. Jadi bahan
bakar U-233 diproduksi terpisah menggunakan sistem akselerator, sesuatu yang
pengembangnya sebut sebagai THORIMS-NES... wait, bukan. AMSB. めっちゃ めんどくさい。。。
Tidak jelas bagaimana nasib MSR-FUJI saat ini,
mengingat thorium sendiri bukan ide yang populer di Jepang. Khususnya karena
mereka sedang fokus pada... SFR dan HTGR. Plus daur bahan bakar nuklir,
back-end, dekomisioning Fukushima Daiichi, restart PLTN yang sedang idle, etc.
Perkara Cina dan Korea Selatan, karena Korea
Selatan masih baru, jadinya mereka masih meraba-raba konsep apa yang ingin
mereka kembangkan. Saat ini tampaknya masih cenderung ke Molten Chloride Fast
Reactor (MCFR), tetapi dengan konsep reprosesing yang agak berbeda dan
kelihatan masih kurang paham apa yang mereka kerjakan sendiri. Riset masih
terpusat di KAIST, belum jelas apa sudah ada di KAERI.
Pada dasarnya, yang sedang ingin dikembangkan oleh KAIST adalah sejenis MCFR untuk nuclear marine propulsion, lalu small modular reactor (SMR) umur panjang, dan break-even MCFR tanpa sistem reprosesing kompleks. Untuk ide terakhir rasa-rasanya masih masuk akal karena ekonomi netron MCFR memang mendukung untuk itu. Masalahnya adalah ide untuk nuclear marine propulsion dan SMR. Antara konsep yang menggunakan MCFR dengan spektrum netron cepat dengan penggunaan reflektor/moderator berilium oksida (BeO) yang memoderasi netron secara ekstrem tampaknya agak... kurang sinkron. Tampak bahwa mereka ingin membuat teras reaktor menjadi sejenis long-lived core, yang pada dasarnya didukung oleh bahan bakar MSR yang sangat resisten terhadap deformasi akibat radiasi, but it's kinda strange, still...
Realita bahwa mereka tidak mau menggunakan
online refuelling dan cenderung mendesain sebagai long-lived core memang secara
teknis realistis saja, tetapi agak mengurangi keunggulan dari MSR itu sendiri.
(a bit ironic that I use the same approach for
my research, but that is for a legitimate reason: space constraint)
Sementara, Cina sudah membangun purwarupa MSR
di Gurun Gobi dan menunjukkan proses pembiakan U-233 dari thorium bisa dilakukan
di MSR. Saat ini mereka fokus ke TMSR dengan spektrum termal dan pakai thorium.
Kenapa? Karena Cina punya lebih banyak thorium daripada uranium. Riset
difokuskan oleh SINAP, menggunakan data unclassified yang dirilis oleh ORNL dan
kemudian dikembangkan sendiri versi mereka. Beberapa riset terakhir sedang
mengembangkan konsep moderator grafit baru untuk memperpanjang usia pakainya,
supaya tidak perlu cepat-cepat ganti. Meski tampaknya kalau lihat hitungan
ThorCon, mengganti moderator itu masih sangat terjangkau. Ya tidak masalah,
sih, terserah mereka...
Secara umum, Cina masih unggul dalam riset MSR
dibandingkan Korea Selatan apalagi Jepang. Cina sudah bangun purwarupa, dan
ide-ide mereka cukup inovatif dan applicable. Korea Selatan masih cenderung
kebingungan dengan konsep yang mereka kembangkan, mencoba melempar banyak dadu
sembari berharap ada satu yang menunjukkan angka 6. Sementara, Jepang paling
tertinggal. Memang, di Science Tokyo saya lagi mengerjakan desain MCFR, tetapi
masih jadi solo player. Belum ada tim. Anggaran dari pemerintah Jepang pun
nyaris nihil. Jadi tampaknya masih akan lama sebelum ada konsep MCFR yang bisa
dikeluarkan secara komplit oleh Jepang.
Namun, jika industri semisal CRIEPI, Mitsubishi Heavy Industries, dan Hitachi mau terlibat, sepertinya proses Jepang menuju MSR bisa diakselerasi. Sekarang tinggal masalah meyakinkan mereka saja, dan tentu saja itu bukan urusan saya. Itu urusan sensei.
Jumat, 19 September 2025
Kisah Kapal Yang Tenggelam
Namun, pemimpin negara itu tampaknya tidak punya kesabaran dan kesadaran terhadap masalah yang dialami oleh kapal-kapal ini. Jadi dia, secara kontroversial, atas bisikan tetua yang berdiri di belakangnya, memutuskan untuk menggabung sejumlah kapal itu menjadi satu beserta awak-awaknya. Mayoritas nahkoda kapal dipecat, dan satu nahkoda yang dekat dengan tetua diangkat menjadi nahkoda kapal baru tersebut.
Harapannya? Operasional kapal jadi lebih efisien dan luarannya bisa lebih terlihat.
Realitanya? Bencana. Kapal-kapal dengan komponen yang tidak sinkron satu sama lain itu diamalgamasi bagian-bagiannya untuk menjadi satu kapal induk dengan basis satu kapal tertentu yang nahkoda aslinya dekat dengan tetua negara. Beberapa komponen yang krusial untuk kapal-kapal tertentu ditinggalkan. Awak kapal dijejalkan semua dalam satu kapal induk tersebut, yang ruangan dan fasilitasnya tidak memadai untuk menampung mereka semua.
Untuk menambah buruk persoalan, awak kapal ditambah dari kapal-kapal lain yang tidak digabung, dan itu menghilangkan salah satu fungsi dari kapal-kapal tersebut.
Dalam proses amalgamasi kapal menjadi kapal baru ini, nahkoda baru mengatakan bahwa pada masa transisi pasti akan ada ketidaknyamanan dan berjanji akan membereskan semuanya dalam sekian tahun. Namun, sekian tahun lebih dua tahun berlalu dan kapal baru itu lebih terlihat seperti kapal obesitas yang interior maupun eksteriornya terkesan ditempel secara asal-asalan dari komponen kapal-kapal lain. Awak kapal mempertanyakan dan mengkritisi tentang bentuk kapal yang berantakan, fungsinya yang tidak jelas, dan penataan fasilitasnya yang berantakan, tapi awak-awak kapal yang berani bersuara malah dikurung di sebelah ruang mesin.
Nahkoda kapal dan tetua negara yang diangkat menjadi tamu kehormatan di kapal menganggap kapal zombie tersebut jauh lebih efisien dan dapat menghasilkan luaran yang bagus untuk negara. Padahal, jalannya lambat (5 knot per jam), kemudinya oleng dan tidak pernah sinkron, navigasinya tidak bekerja, dan awak kapal banyak yang kebingungan dengan penempatan tugasnya dan apa yang harus mereka kerjakan.
Karena kapalnya terlalu berat dibandingkan tonase maksimum, kapal ini perlahan-lahan mulai tenggelam. Para awak kapal terus memperingatkan nahkoda, tetapi semuanya masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Justru nahkoda menempatkan agen-agennya sebagai intel untuk mendengarkan bisik-bisik di kalangan awak kapal, dengan tujuan untuk melaporkannya ke nahkoda dan menjadi legitimasi untuk mengurung mereka di sebelah ruang mesin. Efeknya, awak kapal tidak berani lagi memperingatkan nahkoda, dan sudah pasrah dengan kondisi yang ada.
Tidak perlu menunggu sekian tahun, kapal itu pun tenggelam, beserta ilusi sang nahkoda, tetua, dan pemimpin negara yang berekspektasi bahwa penggabungan ini akan membuat kinerja kapal lebih efektif dan efisien, serta membawa negara menjadi lebih maju (entah apapun maksudnya itu).
Pepatah Jepang mengatakan, ”安物買いの銭失い。” Artinya kurang lebih, "Kehilangan uang lebih banyak karena membeli yang murah." Walau pepatah itu sudah ada sejak Zaman Edo, tampaknya, masih ada benarnya hingga sekarang.
Selasa, 09 September 2025
Jangan Menjadi Sisyphus
Dalam mitologi Yunani, Sisyphus adalah seorang manusia fana yang semasa hidupnya mencurangi para dewa, khususnya Zeus. Sisyphus pernah memperdaya Thanatos dan mengikatnya sehingga dia bisa kembali dari kematian. Tapi karena Thanatos tidak bisa melakukan tugasnya, manusia tidak bisa mati, dan Ares menjadi jengah karenanya. Akhirnya, Ares mengintervensi dan membebaskan Thanatos dari rantai pengikatnya, lalu melemparkan Sisyphus pada Thanatos untuk dikirim ke Dunia Bawah yang dikuasai Hades.
Akibat keangkuhan Sisyphus yang merasa lebih hebat dari para dewa, Hades menghukumnya dengan menyuruh Sisyphus untuk mendorong batu besar ke puncak bukit. Namun, setiap kali Sisyphus hampir mencapai puncak bukti, batu itu menggelinding kembali ke dasar bukit, dan Sisyphus harus mendorongnya kembali ke atas. Proses ini terulang selamanya. Tidak peduli seberapa kerasnya Sisyphus berusaha, dia dikutuk tidak pernah bisa mencapai tujuannya.
Dalam literatur, mitologi Sisyphus ini digunakan sebagai alegori untuk mendeskripsikan suatu fenomena yang sulit dilakukan tapi tidak akan pernah berhasil. Dalam istilahnya Pampam dari opera sabun Tuyul dan Mbak Yul, "Gagal maning, gagal maning, Son!" Ironisnya, upaya Samson dan Pampam untuk menangkap Ucil dalam serial tersebut adalah representasi pas dari Sisyphean Effort. Capek-capek berusaha, gagal maning-gagal maning. Sudah berhasil meringkus Ucil, lepas lagi dari markas mereka.
Sisyphean Effort ini pada dasarnya banyak terjadi di dunia nyata, dan seringkali pelatuknya adalah arogansi seseorang. Dalam teknologi reaktor nuklir, misalkan, obsesi terhadap reaktor fusi nuklir bisa dianggap sebagai Sisyphean. Sudah riset lebih dari 50 tahun, tidak pernah juga berhasil untuk membangun sistem yang komersial apalagi terjangkau. Uang sudah keluar sangat besar, tapi mundur lagi mundur lagi estimasi waktu komersialisasinya. Sementara keekonomiannya masih tanda tanya besar. Kalau tidak ekonomis, tidak ada yang mau beli kecuali dengan subsidi superbesar, padahal ada opsi lain yang secara ekonomis jauh lebih logis (reaktor fisi nuklir).
Di sektor energi secara umum, upaya dekarbonisasi dengan 100% energi terbarukan juga merupakan Sisyphean Effort. Energi terbarukan dengan segala limitasi fisisnya tidak memungkinkan dekarbonisasi total, kecuali dengan mengorbankan reliabilitas sistem ketenagalistrikan, harga energi supermahal, availabilitas energi rendah, itupun kemungkinan besar masih harus bergantung pada energi fosil ATAU menyerah pada degrowth, yakni konsumsi energi dikurangi. Itupun belum tentu berhasil pada rentang waktu yang diharapkan. Usaha superbesar, hasil seadanya.
Di sektor politik, "memperbaiki demokrasi" secara teknis termasuk Sisyphean. Karena memperbaiki itu asumsinya bahwa sebuah sistem itu sejak awal bisa bekerja. Demokrasi tidak. Demokrasi tidak pernah bekerja sebagaimana mestinya sejak akarnya, karena klaim "perwakilan" itu utopis sebagaimana menyerahkan kedaulatan di tangan masyarakat itu utopis. Karenanya, klaim suara mayoritas pun utopis. Kedaulatan tidak pernah pernah berada di tangan rakyat, melainkan di tangan oligarki. "Suara mayoritas" hanya sebatas mayoritas dalam memilih antek oligarki dan tiran mana yang lebih disukai masyarakat.
Jadi, apa yang mau diperbaiki dari demokrasi? Tidak ada. Karena konsep dasarnya sendiri sudah rusak darisananya. Hanya arogansi manusia yang merasa vox populi vox dei adalah sebuah keniscayaan mutlak yang membuat Sisyphean ini terus diyakini bisa terwujud, meski keyakinan itu terus menerus menggelinding ke bawah bukit ketika dikira hampir berhasil.
Segala usaha untuk "memperbaiki demokrasi" tidak lebih dari Sisyphean Effort. Manusia-manusia yang nalarnya masih bekerja dengan baik selayaknya tidak mempersulit hidupnya yang sudah dipersulit secara sistemik dengan melakukan sesuatu yang sia-sia.
Kamis, 21 Agustus 2025
Orang Saintek Kaku?
Orang saintek dibilang pemikirannya kaku? Cuma hitam-putih, tidak bisa dinamis? Karena sains itu eksak sementara ilmu sosial fleksibel?
Saya tidak tahu dari mana kesan ini muncul, tapi pasti bukan dari orang saintek. Karena orang saintek beneran tidak akan mengatakan bahwa saintek itu eksak, dalam artian cuma ada kemungkinan biner antara benar atau salah. Kalau yang dibilang begitu orang matematika, masih masuk akal, meski tidak berlaku untuk semua keadaan juga. Tapi saintek? Ngaco.
Justru saintek banyak bermain dengan ketidakpastian. Sains bermain dengan model-model yang dianggap cukup akurat dalam merepresentasikan sebuah masalah dalam keadaan batas (boundary condition) tertentu. Model ini tidak bisa digunakan untuk keadaan di luar keadaan batasnya. Makanya sains selalu diperbarui ketika ada temuan terbaru. Mekanika Klasik Newton, misalkan, tidak bisa menjelaskan fenomena skala kuantum. Makanya diperbarui (atau lebih tepatnya, dilengkapi) dengan Mekanika Kuantum Einstein. Demikian pula, model atom Dalton diperbarui hingga model atom Bohr dan sekarang model kuantum.
Sains juga memiliki ketidakpastian. Contoh di fisika atom, probabilitas reaksi tangkapan netron di rentang energi tertentu oleh nuklida tertentu memiliki rentang ketidakpastian. Itulah mengapa evaluasi data nuklir versi ENDF, JENDL, CENDL, JEFF, seringkali beda satu sama lain. Versi terbaru pun terus memperbarui datanya agar ketidakpastian itu bisa dikurangi.
Ilmu teknik/rekayasa bermain dengan margin. Teknik jarang menggunakan angka eksak, melainkan dengan menghitung angka standar menggunakan estimasi terdekat dan menetapkan margin nilai yang bisa diterima. Kenapa? Karena fenomena sistem teknik tidak selalu bekerja eksak, seringkali terjadi osilasi dan ketidakpastian dalam fenomena fisis yang digunakan dalam sistem tekniknya.
Jadi, keliru sekali jika dikatakan bahwa orang saintek itu berpikirnya kaku dan biner. Orang saintek sudah familiar dengan ketidakpastian pada kesempatan pertama mereka belajar saintek.
Yang membedakannya dengan orang soshum adalah
1. Ada batas ketidakpastian yang bisa diterima dan tidak,
2. Ada konsensus tentang sebagian fenomena yang sudah dipastikan kebenarannya.
Contohnya, konsensus bahwa bumi ini bulat, tidak datar. Itu tidak bisa digugat lagi, karena klaim bumi datar bertentangan dengan realitas fisis terindera. Tidak bisa digunakan klaim fleksibilitas dan opini untuk mengakui argumen bumi datar.
Contoh lain, konsensus bahwa pemanasan global bersifat antropogenik. Itu sudah tidak bisa digugat lagi karena klaim bahwa pemanasan global bersifat alami bertentangan dengan realitas terindera dan data-data yang dikumpulkan secara konsisten dan independen. Yang masih ada ketidakpastian adalah prediksi seberapa buruk dampak pemanasan global dan laju kenaikan temperatur, bukan dari eksistensi pemanasan global antropogenik itu sendiri.
Demikian pula soal isu vaksinasi MMR menyebabkan autisme, jelas tertolak dan tidak bisa diterima sebagai opini sebagaimana ilmu soshum menerima opini karena bertentangan dengan data-data ilmiah yang teruji secara konsisten dan independen.
Dari sini, jelas bahwa tuduhan bahwa orang-orang saintek itu berpikirnya kaku dan saklek, tidak dinamis, adalah omong kosong besar. Orang saintek sudah paham tentang ketidakpastian sejak awal, hanya yang membedakan adalah ketidakpastian itu memiliki limit. Tidak benar-benar bebas, karena ada hukum dasar yang masih perlu untuk dipenuhi. Kalau kesannya kaku, maka "kekakuan" itu ditujukan untuk menjaga konsistensi dengan batas yang bisa diterima dan konsensus yang sudah tidak bisa dibantah lagi, tidak ada hubungannya dengan close-mindedness!
Justru inovasi banyak bermunculan dalam bidang saintek, kadang-kadang memperbarui hingga menggeser teori lama. Sementara ilmu soshum kadang justru lebih kaku dan mandeg dengan teori-teori yang dirumuskan orang-orang tertentu tanpa mau keluar dan menggugatnya, seperti definisi textbook soal kapitalisme. Kreativitas malah lebih terlihat di bidang saintek yang dianggap "kaku," sementara yang dianggap "dinamis" malah bersikap kaku terhadap inovasi.
Minggu, 17 Agustus 2025
Banyak-Banyakan Publikasi, Untuk Apa?
Belum lama ini, saya membaca berita di website salah satu universitas domestik soal mahasiswa pascasarjana yang menyelesaikan kuliah S2-S3 dalam tiga tahun (!!!) dan menerbitkan 25 publikasi ilmiah dalam tiga tahun kuliahnya tersebut. Artinya, ada delapan publikasi ilmiah di jurnal internasional dalam setahun.
Lalu, seorang rekan kemudian membagikan berita soal dokter alumni S3 Belanda yang mendapatkan penghargaan dari MURI terkait rekor publikasi terbanyak selama studi doktoral, yakni 68 publikasi ilmiah! Saya memulai riset sejak 2018, yang artinya sudah 7 tahun terlibat di dunia litbang, dan publikasi di jurnal internasional masih tidak sampai 20.
Tidak ketinggalan pula, pemenang reality show kapitalis bertopeng pendidikan ajang kompetisi intelejensia mahasiswa Musim Pertama, yang saat ini masih mahasiswa S1 di universitas lokal, sudah publikasi belasan publikasi ilmiah, dua di antaranya sebagai penulis pertama. Mayoritas di jurnal internasional terindeks Scopus pula.
Walau demikian, setelah saya cek lagi di akun Scopus dan Google Scholar masing-masing individu tersebut, mayoritas adalah... systematic literature review (SLR) dan meta-analysis. Review article, bukan original research article. Ada, memang, original research article (kecuali pemenang reality show kompetisi pendidikan), tapi tidak sebanyak itu. Mayoritas, kalau bukan semuanya, dipublikasikan ketika sedang menempuh jenjang perkuliahan, sedikit sekali di luar perkuliahan.
Dari situ, saya jadi sering terpikirkan soal hakikat publikasi ilmiah. Sebenarnya apa, sih, yang dituju dari publikasi ilmiah ini? Publikasi ilmiah itu sebenarnya untuk apa? Kenapa sekarang normanya jadi seolah-olah lulus secepat-cepatnya dan publikasi sebanyak-banyaknya? In a sense, tren ini juga saya curigai mulai muncul di lembaga riset yang harusnya menelurkan publikasi berupa original research article, bukannya banyak-banyakan publikasi SLR dan meta-analysis.
Perlu diakui bahwa publikasi ilmiah negeri ini masih sedikit. Untuk ukuran negara sebesar Indonesia, data Scimago menunjukkan bahwa jumlah dokumen terpublikasi yang terindeks lembaga pengindeks komersial sejenis Scopus dan Web of Science baru berada di peringkat 37. Setingkat di bawah Singapura dengan jumlah penduduk yang... agak memalukan untuk membandingkan keduanya. Bahkan lebih rendah daripada entitas ilegal fasis rasis maniak genosida yang berada di peringkat 26. Ini belum bicara sitasi per dokumen dan H-Index yang paling rendah di antara 50 negara dengan dokumen terpublikasi paling banyak!
Kinda embarrassing, really...
Publikasi ilmiah memang salah satu indikator yang menunjukkan kualitas dan kemajuan riset sebuah negara. Masalahnya? Jumlah itu adalah indikator kualitas riset, bukan target riset! Publikasi ilmiah, seharusnya, bukan ajang gengsi-gengsian. Bukan ajang kompetisi kejar-kejaran banyak-banyakan, bukan! Jumlah publikasi ilmiah itu tidak lebih dari indikator, seberapa maju kualitas riset sebuah negara, bukan target yang harus dikejar!
Sepertinya ini yang disalahartikan oleh para pemangku kebijakan. Sadar bahwa publikasi ilmiah terindeks Scopus dan Web of Science masih sedikit relatif terhadap negara lain, akhirnya kuantitas digenjot habis-habisan. Tapi apakah tuntutan kenaikan kuantitas publikasi ini diimbangi dengan penambahan kuantitas anggaran? Apakah diimbangi dengan perbaikan fasilitas riset dan kenaikan gaji akademisi serta peneliti? Ya tentu saja... tidak. Justru makin ke sini makin diperketat, birokrasi dipersulit, bahkan anggaran riset turun dari Rp 26 triliun menjadi Rp 6-7 triliun. Tapi kuantitas publikasi harus diperbanyak.
Ini, logika dari mana?
Dari sini saya kira fenomena banyak-banyakan publikasi berbentuk SLR, meta-analysis, ditambah bibliometrik, mulai mencuat. Dengan krisis anggaran riset, penghematan anggaran demi proyek populis yang visi dan eksekusinya buruk, serta negara mengurangi pendanaan terhadap universitas yang makin kesini disuruh makin mandiri, sementara beban luaran makin banyak, para akademisi akhirnya mencari exit liquidity berupa menggunakan data sekunder, yang menghasilkan tiga jenis publikasi tersebut. Data sekunder, karena datanya sudah ada, dikerjakan oleh negara-negara lain yang ekosistem risetnya agak "mendingan" (karena tidak semuanya sehat juga), lalu tinggal ditelaah semua datanya dan diberi penafsiran dan kesimpulan sendiri dari kumpulan data itu. Kadang cuma membaca data saja, tidak ada analisis sendiri. Herannya masih terbit. Di jurnal terindeks Scopus pula.
Kalau sekadar exit liquidity, mungkin masih agak bisa diterima. Karena kepepet. Sementara pemberi anggaran sudah bawel menuntut luaran seperti kelelawar buah ketika melihat pepaya matang. Masalahnya, para akademisi dan peneliti tampaknya jadi ketagihan untuk terus menerus publikasi SLR, meta-analysis, dan bibliometrik. Pelatihannya muncul di mana-mana, untuk menggunakan tools bibliometrik dan SLR. Mahasiswa pascasarjana, yang harusnya disibukkan dengan original research, malah diajak banyak pihak untuk ikut nulis makalah SLR, meta-analysis, dan bibliometrik.
Mau dilihat dari manapun, fenomena ini jelas problematik. Publikasi ilmiah yang harusnya sebatas jadi indikator hasil riset, malah jadi ajang gengsi-gengsian dengan banyak-banyakan publikasi. Mana publikasinya dari hasil telaah data sekunder pula. Lalu ketika berhasil publikasi belasan hingga puluhan publikasi dalam setahun atau sepanjang masa studi, dianggap sebuah prestasi yang luar biasa.
Like, seriously?
Di mayoritas bidang, SLR dan bibliometrik itu seringkali hanya terpakai untuk bagian Latar Belakang/Introduction di manuskrip ilmiah. Meta-analysis paling berguna untuk riset bidang kesehatan, tapi bukan untuk dipublikasi sebanyak-banyaknya, melainkan ada kepentingan teknis untuk memandu original research. Mau dilihat dari manapun, tiga model publikasi itu tidak bisa dianggap sebagai primary research. Bukan riset utama, melainkan supporting research/riset pendukung. A mean, not a target.
Banyak-banyakan publikasi SLR, meta-analysis, dan bibliometrik, lalu berbangga dengan jumlah makalah yang terpublikasi itu, merasa telah berkontribusi dalam mendongkrak jumlah publikasi ilmiah negara, pada hakikatnya adalah sebuah bentuk kelucuan. Membanjiri dunia publikasi ilmiah, yang saat ini sudah tersaturasi, dengan jenis-jenis publikasi semacam itu, tidak lebih dari menghasilkan lebih banyak derau/noise dalam dunia riset, yang mulai jenuh dengan banyaknya publikasi dengan nilai tambah rendah, replikabilitas bermasalah, mitra bestari/reviewer yang lelah, dan entitas jurnal komersial yang terus menjajah.
Saat ini, dipublikasikan di jurnal terindeks Scopus bukan lagi bukti bahwa kualitas publikasinya luar biasa bagus. Oversaturasi publikasi dan mental kapitalistik penerbit jurnal komersial akhirnya menjadikan standar publikasi seringkali melonggar, dan ini sudah menjadi concern di dunia ilmiah internasional.
Akhirnya, akademisi semodel begini hanya berbangga-bangga dengan jumlah publikasi saja. Bukan kualitas publikasi, bukan peran publikasinya dalam memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi, tapi karena jumlahnya banyak dan terindeks Scopus. Lalu ketika pola seperti ini dikritik, malah menganggap si pengkritik itu iri, dengki, hasad, tidak suka dengan prestasi orang lain, you name it.
Padahal masalahnya yang dikritik adalah fenomena banyak-banyakan publikasi yang cuma jadi derau dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, di tengah dunia publikasi ilmiah yang terlalu banyak masalah. Tidak ada kaitannya dengan iri, hasad, dan sebangsanya. Hanya akademisi dan manusia berotak picik dan sempit yang berpikir seperti itu.
Publikasi semodel SLR, meta-analysis, dan bibliometrik ada pangsanya sendiri, tapi yang jelas bukan sebagai arah publikasi utama. Publikasi tersebut eksis sebagai pendukung dari tujuan utama: memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi. Yang mana, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut bergantung pada original research, yang menghasilkan publikasi berupa original research article.
Tidak ada ilmuwan/akademisi yang membangun karir dari publikasi SLR, meta-analysis, dan bibliometrik. Kalau ada, itu ilmuwan kualitas rendah yang tidak punya kontribusi apa-apa terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi. Bahkan mungkin tidak berguna dan tidak paham sama sekali ketika harus melakukan original research, karena bisanya cuma pakai data sekunder.
Tampaknya, Goodhart's Law dapat diberlakukan untuk fenomena ini.
"
When a measure becomes a target, it ceases to be a good measure."
Jumlah publikasi itu fungsinya hanya sebagai ukuran, bukan target. Ketika jumlah dijadikan sebagai target, sebagai ajang gengsi, sebagai ajang hebat-hebatan, maka jumlah publikasi bukan lagi jadi alat ukur yang bagus.
Budaya bangga-banggaan dengan jumlah ini selayaknya dikurang-kurangi. Bahkan Rasulullah SAW pun pernah hampir mengalami kekalahan di Perang Hunain. Apa mentalitas kaum muslimin pada saat Perang Hunain? Berbangga dengan jumlah. Merasa tidak terkalahkan. Sampai Allah SWT menegur umat Islam dengan cara demikian, supaya tidak usah sombong dengan jumlah yang banyak.
Bagi akademisi/Peneliti sungguhan, kualitas >>> kuantitas. Tidak apa-apa hanya bisa publikasi 1-2 makalah tiap tahun. Bahkan mungkin baru bisa publikasi sekali dalam dua tahun. Utamakan kualitas, bukan kuantitas. Utamakan kebermanfaatan riset untuk dunia ilmiah, ilmu pengetahuan, atau aplikasi dunia nyata (tergantung jenis risetnya), tidak usah ngoyo dengan banyak-banyakan jumlah. Karena riset berkualitas bagus dan kuantitas banyak dalam waktu singkat itu sama utopisnya dengan berharap merkuri bisa berubah menjadi emas hanya dengan memaparinya dengan netron dari sumber AmBe, tidak ada dalam realita.
Bagi yang masih berbangga-bangga dengan jumlah publikasi, tapi hanya berbekal data sekunder dan hanya menjadi derau dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, semoga mau sadar dan mulai lebih fokus pada kualitas riset di original research.
Selasa, 12 Agustus 2025
Peran Yang Harus Dikurang-Kurangi
Dalam kehidupan manusia posmodern, khusunya bagi seorang muslim, saya kira ada beberapa peran yang selayaknya dikurang-kurangi dan ada peran yang sebaiknya diperkuat.
Di sini saya bahas peran yang sebaiknya dikurangi dulu.
1. Polisi Adab
Senin, 11 Agustus 2025
Ketika Ruwaibidhah Diberi Panggung
Dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya akan datang kepada manusia tahun-tahun penipuan, di dalamnya orang yang berdusta dipercaya sedang orang yang jujur didustakan, orang yang berkhianat diberi amanah, sedang orang yang amanah dikhianati, dan di dalamnya juga terdapat al-ruwaibidhah.” Ditanya, “Apa itu al-ruwaibidhah wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Yaitu orang bodoh yang berbicara (memberi fatwa) dalam urusan manusia.” (HR Ahmad)
Ini bukan hadits
asing. Hadits ini sering sekali dibahas khususnya dalam berbagai ceramah
terkait urusan publik. Biasanya ditujukan pada entitas-entitas kepemimpinan,
mulai dari yang kecil seperti lembaga riset maupun entitas yang lebih besar
seperti negara. Karena hadits ini bersifat mujmal, jadi bisa
diaplikasikan untuk berbagai konteks. Tidak hanya pemimpin negara saja, bahkan
tanpa terikat dengan suatu entitas tertentu sekalipun.
Abad 21 baru berjalan
seperempat abad, dan makin kesini para ruwaibidhah tampak
semakin banyak. Siapapun bisa berbicara soal apapun tanpa koreksi dan kontrol
memadai. Tom Nicholls menyebutnya sebagai The Death of Expertise.
Kepakaran kini sudah mati, berganti dengan popularitas. FYP dan interaksi/engagement menjadi
mata uang baru untuk menentukan benar atau salah, bisa dipercaya atau tidak.
Bukan lagi kebenaran objektif, tapi persepsi subjektif. Asal dia tenar, dia
bisa dipercaya sebagai orang yang kredibel. Contohnya banyak, mulai dari
pedagang hoax berkedok agama, "guru" obesitas yang bicara segala hal
seolah-olah dia pakar dalam semua bidang, mentalis/pesulap/penghibur tipuan
mata yang alih haluan menjadi tuan rumah siniar, dokter influencer tapi
STR mati, sampai dukun anonim berkedok medis.
Tipikal-tipikal orang
sejenis itu layak disebut sebagai ruwaibidhah. Mengapa? Karena
berbicara tanpa ilmu terkait urusan manusia luas. Berbicara soal kesehatan
membawa-bawa kedok agama, tanpa memahami bagaimana fahmul waqi' dalam
sebuah persoalan, tanpa memahami dalil apalagi istidlal hukum
syara', tanpa memahami ilmu medis seperti apa. Semua "argumentasi"
yang disampaikan berbasis pada appeal-to-emotion fallacy, cuma
memantik emosi/perasaan audiens dengan tajuk-tajuk kontroversial dan
premis-premis palsu, serta penggunaan dalil syara' tidak pada tempatnya. Tapi
karena menggunakan emotional appeal inilah, mereka mudah
menyesatkan warganet yang memang pada dasarnya jarang yang mampu berpikir
kritis.
Truth is boring. Fear sells. (Hargraves, 2012)
Tidak ketinggalan pula
seseorang yang punya gelar PhD di bidang teknologi pangan, tapi berbicara
sangat jauh melampaui kepakarannya tersebut sampai ke topik climate
change, pandemi Covid-19, dan genetically modified
organism (GMO). Sudah begitu, kemampuan penalaran dalam membaca
publikasi ilmiah (scientific paper, atau kita sebut saja paper)
dan menganalisis datanya relatif rendah. Tapi pede sekali mengatakan ini dan
itu yang KATANYA merujuk pada paper tertentu,
tapi apa yang disampaikan dengan isi paper sama sekali
berbeda. Alias salah menafsirkan isi paper. Mulai dari paper soal
Covid sampai soal glifosat, keliru semua.
Nah, kira-kira, kalau para ruwaibidhah sejenis ini diberi
panggung oleh mereka yang punya basis audiens cukup besar, apa yang akan
terjadi?
Betul. PEMBODOHAN
MASSAL. Bukannya mencerdaskan kehidupan bangsa, bukannya mencerdaskan
pemikiran umat, malah melakukan pembodohan terhadap umat. Maka akan menjadi
masalah besar, ketika sebuah komunitas Islam yang katanya mengajak
"mengaji" kemudian memberi panggung kepada para ruwaibidhah sejenis
ini, maka sama saja pengikut dan audiens komunitas ini disajikan panggung
pembodohan!
Ketika
"guru" obesitas yang sering membahas topik secara keliru dan
akurasinya rendah kemudian diberi panggung oleh forum siniar dengan basis
audiens cukup besar, maka kesan yang muncul adalah "guru" obesitas
ini adalah seorang yang kompeten dan bisa dipercaya oleh audiens komunitas
tersebut. Khususnya bahwa para audiens tidak terbiasa dan tidak pernah dilatih
berpikir kritis oleh komunitas Islami tersebut, sementara para tuan rumah
siniar juga tidak pernah menganggap pernyataan-pernyataan kontroversial dan
keliru "guru" obesitas sebagai hal yang patut dikoreksi, sehingga
yang terjadi adalah para audiens menelan mentah-mentah sikap dan pernyataan
"guru" obesitas alih-alih bersikap kritis.
Ketika PhD lompat
pagar yang hobi bicara konspiratif berbekal pemahaman keliru terhadap paper yang
dibacanya diberi panggung oleh forum yang sama, maka komunitas tersebut sedang
mengekspos audiens mereka dengan penyesatan pemikiran yang berbahaya. Karena
kepercayaan berlebih terhadap tuan rumah siniar, audiens jadi meyakini bahwa
orang yang diundang ke dalam siniar tersebut adalah orang yang kompeten di
bidangnya, sehingga apa yang disampaikan PhD lompat pagar itu dianggap sebagai
sebuah kebenaran. Mulai dari konspirasi bahwa pandemi Covid-19 adalah rekayasa
manusia, sampai kedelai GMO akan menyebabkan kanker. Hal ini
diperparah bahwa tuan rumah siniar tidak ada seorang pun yang memilikii gelar
doktoral dan tidak ada yang kompeten sama sekali dalam bidang sains.
Ketika orang-orang
sosialis diberi panggung oleh forum yang sama, tanpa ada usaha untuk membongkar
pemikiran kufur sosialisme, audiens yang tidak pernah dilatih berpikir kritis
jadi mudah sekali tergoyangkan pemahamannya dan jadi tertarik untuk mempelajari
karya-karya orang sosialis tersebut. Bukan untuk dibantah, tetapi dijadikan
sebagai referensi!
Kenapa sampai
komunitas Islami tersebut memberi panggung terhadap para ruwaibidhah?
Apa mereka tidak pernah sadar tentang reaksi publik yang cenderung negatif
terhadap beberapa pihak, dan kekeliruan pemikiran di pihak lain?
Sepertinya alasannya
tidak jauh dari memancing interaksi. Karena sekali lagi, FYP dan engagement adalah
cara untuk menjadi terkenal di era posmodern. Engagement adalah
berhala yang mesti disembah demi memiliki nama. Akhirnya semua dampak susulan
dari interaksi tersebut tidak diperhitungkan sama sekali, meskipun itu adalah
dampak negatif. Para ruwaibidhah, yang seharusnya
di-delegitimasi posisiya, malah diberi kesan positif dan dikembalikan
kepercayaannya oleh audiens, semata-mata karena diundang oleh komunitas Islami
yang dianggap memiliki kesan positif.
Penyesatan pemikiran
massal tersebut juga menyulitkan kalangan intelektual sungguhan dan orang-orang
yang lurus pemikirannya untuk menyadarkan masyarakat dari kekeliruan pemikiran
para ruwaibidhah ini. Para saintis sudah mati-matian berusaha
menjelaskan fenomena riil terkait pandemi Covid-19, eh malah disesatkan lagi
oleh komunitas Islami yang mengundang ruwaibidhah. Jadi menambah
pekerjaan lagi. Sama, ketika para guru dan akademisi sungguhan sedang
mengkritik kesalahan berpikir "guru" obesitas, komunitas ini malah
membuat ruwaibidhah satu ini tambah menggelembung namanya
(juga kepalanya).
Dengan kata lain,
siniar komunitas Islami ini membantu menyebarkan kebodohan, kesesatan,
dan fitnah, serta mempersulit hidup para intelektual sungguhan dalam
mencerdaskan pemikiran umat Islam!
"Mengaji"
apa yang sesungguhnya mereka ingin tunjukkan dengan praktik pemberhalaan engagement ini?
Apa mereka tidak bisa mengundang orang-orang yang kompeten dan lurus saja alih-alih sekumpulan ruwaibidhah? Apa karena saking buruknya isi komunitas mereka, sehingga mereka hanya mengenal dan menganggap penting ruwaibidhah asal punya nama dan bisa mengundang audiens-interaksi?
Praktik yang dilakukan komunitas Islami seperti
ini tidak ada manfaatnya sama sekali. Alih-alih menjadi pahala jariyah, apa yang
mereka lakukan ini bisa menjadi dosa jariyah.
“Siapa yang mengajak kepada kesesatan,
dia mendapatkan dosa, seperti dosa orang yang mengikutinya, tidak dikurangi
sedikitpun.” (HR Muslim)
Sayang sekali bahwa pengurus komunitas
Islami ini terkenal bebal, besar kepala, dan anti-kritik. Mereka menggunakan
kacamata kuda dalam melakukan aktivitasnya dan tidak mengenal kekeliruan dalam
apa yang mereka lakukan. Yang mereka tahu hanyalah bahwa semua pengkritiknya
adalah hasad, dengki, benci, iri. Tidak beda jauh dengan “musuh” yang didengungkan
sebagian anggotanya. Ironis bahwa mereka menjadi persis sebagaimana apa yang
mereka musuhi. Seperti zionis yang begitu membenci Nazi, tapi akhirnya mereka
bertingkah seperti Nazi Jerman.
Kalau sudah begini, tinggal tunggu kejatuhannya cepat atau lambat. Pada titik itu, apakah audiens mereka masih akan sedemikian loyal pada mereka? Ketika loyalitas tertinggi seorang muslim yang harusnya disandarkan pada Allah dan Rasul-Nya, kini dialihkan pada pengkultusan individu dan kelompok?


