Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan

Minggu, 15 Februari 2026

Islam Menyesuaikan Perkembangan Teknologi?

Pernahkah Anda terpikirkan atau bertanya, "Bagaimana cara peradaban Islam menyesuaikan dengan perkembangan zaman terkait teknologi?"

Perlu dipahami begini. Terminologi "perkembangan zaman" itu bisa diperdebatkan. Apanya yang berkembang? Faktanya kan hanya sarana pemenuhan kebutuhan fisik saja. Dan terminologi ini memang dikembangkan berdasarkan paradigma berpikir kapitalistik, ketika dikaitkan dengan teknologi. Seperti apa? Teori kelangkaan, bahwa suplai barang terbatas sementara keinginan manusia tidak terbatas. Keinginan terkait apa? Pemuasan kebutuhan fisik.
Dalam hal ini, kapitalisme memang juara dalam pemenuhan kebutuhan fisik, karena akidah rusak mereka membuat kebahagiaan hakiki mustahil tercapai. Pemisahan agama dari kehidupan, hingga sampai tahap ateistik, melanggar fitrah manusia yang memiliki gharizah at-tadayyun. Hidup manusia kapitalis gelisah, tidak terpuaskan. Pada akhirnya, ketidakpuasan ini memaksa kapitalisme mengembangkan teknologi pemuas jasmani secepat dan semasif mungkin untuk memuaskan kekosongan jiwa para penganutnya.
Dalam kapitalisme, produk teknologi itu tidak didesain untuk bertahan lama, tetapi untuk cepat diganti. Teknologi dikembangkan agar semakin efisien untuk membuka ruang semakin lebar bagi manusia untuk menikmati berbagai macam produknya. Pengembang teknologi membuat propaganda bahwa "dunia berubah semakin cepat" untuk meningkatkan sifat konsumtif masyarakat, yang bagi para kapitalis dapat memberikan kepuasan fisik berupa harta, dan bagi konsumen kepuasan fisik berupa "teknologi terbaru untuk memudahkan hidup." Fasilitas kesehatan semakin canggih, harapan hidup semakin panjang, semua diraih oleh kapitalisme dengan harapan dapat semakin lama menikmati kepuasan jasmani.
Demikianlah kapitalisme. "Perkembangan zaman" alias "perkembangan teknologi" diakselerasi sangat cepat, lebih cepat dari sejarah peradaban manusia manapun, karena para pengembannya telah melanggar fitrahnya sebagai manusia. Kemajuan fisik yang dihasilkan memang luar biasa, tetapi collateral damage yang dihasilkan tidak kalah mengerikan.
Paradigma Islam jelas tidak bisa disamakan dengan paradigma kapitalisme itu. Karena kebahagiaan dalam Islam bukan berasal dari alat pemuas jasmani sebagaimana dalam kapitalisme, melainkan dengan mencapai ridha Allah. Teknologi hanya sarana untuk mendapatkannya, bukan sumber kebahagiaan. Seperti sistem kesehatan yang berkontribusi dalam memperpanjang harapan hidup. Maka tujuannya bukanlah agar manusia mampu menikmati kepuasan fisik lebih lama, melainkan agar manusia dapat lebih lama beribadah pada Allah dalam rangka mencari ridhaNya.
Maka, term "perkembangan zaman" dalam hal teknologi sebenarnya masih bisa dipertanyakan relevansinya dalam konteks Islam. Tujuan pengembangan teknologi dalam kapitalisme dan Islam sangat bertolak belakang. Jika Islam memandang teknologi hanya sebagai sarana, bukan tujuan, maka sebenarnya Islam yang harus mengikuti perkembangan teknologi atau Islam yang harus mengendalikan perkembangan teknologi? Islam yang mengendalikan sarana atau sarana yang mengendalikan Islam?
Betul bahwa Islam itu terkenal sebagai peradaban pionir, bukan pengekor. Sejak era peradaban Islam yakni Khilafah, kemajuan sains dan teknologi Islam itu melampaui zamannya. Tapi kalau dilihat sejarah Khilafah, adakah penemuan sains dan teknologi itu untuk pemenuhan kepuasan jasmani sebagaimana sekarang? Tidak. Semua untuk keperluan terapan praktis dalam rangka ibadah. Al Khawarizmi merumuskan aljabar untuk mempermudah perhitungan waris. Al Biruni dan astronom muslim lain mengembangkan model astronomi untuk menentukan arah kiblat dan waktu shalat. Dan seterusnya. Itulah kenapa pada masa Khilafah, muadzin itu harus astronom, karena astronom lah yang memahami tentang kapan masuknya waktu shalat!

Selasa, 02 Desember 2025

Bencana Alam di Sumatra, Alami atau Efek Perbuatan Manusia?

Fenomena alam pada dasarnya terjadi secara alami (naturogenik) berdasarkan kondisi alam semesta mengikuti hukum alam/sunnatullah yang berlaku. Mekanisme terjadinya fenomena alam tidak dipengaruhi perbuatan manusia. Namun, kondisi alam semesta yang menjadi dasar kebolehjadian fenomena alam tersebut bisa dipengaruhi oleh manusia (antropogenik). Misalkan temperatur permukaan bumi yang naik sebagai akibat dari pembakaran energi fosil, maka kenaikan temperatur itu mengubah pola dan lokasi pembentukan siklon, karena terbentuknya siklon dipengaruhi oleh gradien temperatur udara.

Fenomena alam bisa menjadi bencana alam jika fenomena tersebut menyebabkan kerusakan terukur pada lingkungan hidup. Kerusakan yang terjadi bisa bersifat naturogenik, antropogenik, atau kombinasi dari keduanya. Pada kondisi naturogenik, bencana alam terjadi ketika lingkungan secara alamiah tidak mampu menampung atau memitigasi dampak dari fenomena alam tersebut. Sebagai contoh, jika kapasitas penampungan air oleh tanah secara alami hanya 100 mm per hari, tetapi curah hujan turun dengan laju 200 mm per hari. Dalam kondisi itu, lebihan air akan mengalami tumpahan/runoff ke permukaan tanah dan menyebabkan aliran air deras ke tanah yang lebih rendah dan dapat berakibat pada banjir atau longsor.

Contoh lain adalah letusan gunung berapi. Kapan gunung berapi meletus bergantung pada aktivitas geologis gunung tersebut yang tidak bisa diprediksi persis kapan akan terjadi dan tidak terpengaruh faktor luar. Maka, ketika gunung berapi meletus dan menyebarkan debu vulkanik serta lahar panas ke berbagai penjuru yang kemudian merusak area hutan, hal tersebut merupakan bencana alam naturogenik.

Bencana alam antropogenik terjadi ketika perbuatan tangan manusia menjadi pemicu dari bencana tersebut. Sebagai contoh, jika hutan hujan mampu menampung tumpahan air hingga 200 mm per hari, tetapi curah hujan maksimum secara historis hanya 190 mm per hari, maka tidak akan terjadi banjir atau longsor karenanya, karena lahan masih mampu menampung tumpahan air tersebut. Namun, ketika hutan hujan tersebut ditebang untuk dijadikan perkebunan sawit, hutan tanaman industri monokultur, atau kawasan pertambangan, dengan luas area yang membuat daya tampung air di kawasan tersebut berkurang dari 200 mm per hari menjadi 100 mm per hari, maka ketika terjadi hujan deras dengan laju 150 mm per hari saja, fenomena tersebut akan menyebabkan tumpahan air besar ke permukaan tanah, yang jika debitnya terlampau besar, akan menyebabkan banjir hingga tanah longsor tanpa perlu curah hujan melebihi nilai maksimum. Pada titik ini, bencana alam menjadi antropogenik. Mengingat, jika penebangan melebihi degradasi daya tampung air minimum tersebut tidak dilampaui, niscaya banjir dan longsor tersebut tidak akan terjadi.

Bencana alam juga bisa merupakan kombinasi dari aspek naturogenik dan antropogenik. Contoh, terbentuknya siklon yang membawa uap air dalam volume sedemikian besar sehingga menyebabkan curah hujan melonjak menjadi 210 mm per hari. Secara alamiah, curah ini sudah melebihi daya tampung alamiah tanah yang ditopang hutan sebesar 200 mm per hari. Dalam kondisi ini, akan terjadi tumpahan air di permukaan tanah yang lajunya bergantung pada luas area terdampak. Kerusakan akan terjadi, tetapi mungkin masih bisa ditekan karena selisih kapasitasnya "hanya" 10 mm per hari.

Hanya saja, jika daya tampung tersebut berkurang dari 200 mm per hari menjadi 150 bahkan 100 mm per hari akibat pembukaan lahan yang signifikan, maka yang terjadi adalah pemburukan kerusakan akibat bencana, karena selisih dengan daya tampung air meningkat dari 10 mm per hari menjadi 60-110 mm per hari. Debit tumpahan air naik secara linier terhadap selisih daya tampung, sehingga dampak kerusakan bisa naik berkali lipat.

Hal ini dapat diperparah oleh anomali dalam pembentukan siklon tropis; siklon yang tidak pernah terbentuk di area khatulistiwa dan di badan air sempit mendadak terbentuk di dekat ekuator di atas selat. Dalam iklim bumi normal pra-revolusi industri, hal ini secara hukum alam mustahil terjadi karena kondisi pembentukannya tidak terpenuhi. Namun, setelah bumi memanas akibat penumpukan gas rumah kaca di atmosfer, sebagai akibat dari pembakaran bahan bakar fosil (batubara dan migas, dalam jumlah kecil biomassa), temperatur permukaan bumi naik dan mengacaukan siklus iklim. Sehingga, apa yang tidak mungkin terjadi secara alami 300 tahun lalu, menjadi mungkin terjadi saat ini.

Dalam kondisi ini, fenomena alam yang menyebabkan bencana dapat terbentuk karena perubahan iklim yang bersifat antropogenik. Hal ini semakin menguatkan campur tangan manusia dalam bencana kombinasi naturogenik-antropogenik tersebut.

Dalam kondisi bencana terjadi secara naturogenik, manusia tidak bisa dituntut akuntabilitasnya karena kejadian ini merupakan kejadian yang berada di luar kendalinya (musayyar). Beda halnya dengan bencana antropogenik, atau bencana kombinasi naturogenik-antropogenik, maka manusia ada andil dalam menyebabkan bencana itu terjadi. Bencana antropogenik sudah cukup jelas, karena bencana tersebut tidak akan terjadi jika manusia tidak melakukan disrupsi terhadap daya tampung alami lingkungan terhadap fenomena alam. Manusia berperan penuh dalam bencana antropogenik (mukhayyar), dan semua yang terlibat di dalamnya harus bertanggungjawab, mulai dari perencana, pemberi izin, hingga pelaksana, baik di dunia maupun di akhirat. Demikian pula bencana kombinasi naturogenik-antropogenik, peningkatan level keparahan bencana akibat intervensi manusia terhadap daya tampung alami lingkungan adalah tanggungjawab para perencana, pemberi izin, hingga pelaksana perusakan lingkungan tersebut.

Bencana alam yang terjadi di Sumatra jelas bukan bencana naturogenik. Bencana ini merupakan bencana kombinasi naturogenik-antropogenik. Anomali pembentukan siklon yang kemungkinan besar disebabkan oleh perubahan iklim antropogenik, menyebabkan fenomena naturogenik dengan dampak lebih tinggi daripada daya tampung alami lingkungan. Hal ini kemudian diperparah dengan penurunan daya tampung alamiah sebagai akibat dari penggundulan hutan untuk pertambangan, penjualan kayu, serta hutan tanaman industri. Akibat dari resiliensi lingkungan yang turun ini adalah daya rusak bencana menjadi lebih buruk dan tidak dapat ditanggulangi oleh sumber daya yang tersedia di daerah terdampak. Ditambah lagi, infrastruktur hunian, transportasi, dan jaringan telekomunikasi tidak didesain untuk memiliki resiliensi terhadap bencana.

Memang, dalam kondisi fenomena alam tidak terduga seperti ini, kerusakan infrastruktur sudah jelas akan terjadi. Namun, ketiadaan resiliensi membuat kerusakan jadi tambah parah. Ditambah lagi, tidak ada sistem peringatan bencana yang layak memadai, akibat badan yang bertanggungjawab dalam deteksi bencana tidak diberdayai dengan sumber daya finansial dan manusia yang mencukupi untuk membangun sistem deteksi dan peringatan bencana memadai. Hal ini ditambah seringnya terjadi pencurian terhadap komponen deteksi bencana oleh sebagian warga bermoral bangkrut, yang menyebabkan fungsi deteksi dan kemudian peringatan bencana menjadi terhambat hingga tidak berjalan.

Dengan demikian, tidak ada keraguan bahwa bencana yang menimpa Sumatra bagian utara bukanlah murni bencana naturogenik. Bencana ini adalah bencana kombinasi naturogenik-antropogenik, yang mana manusia berkontribusi besar dalam peningkatan keparahan bencana. Pembabatan hutan secara luas telah mengurangi kapasitas retensi air dalam tanah, sehingga memicu terjadinya banjir besar yang menyebabkan ratusan korban jiwa, kehancuran harta benda, hingga rusaknya infrastruktur penunjang kehidupan masyarakat.

Dari sini, pihak yang paling bertanggungjawab adalah para pengusaha yang membabat hutan, para pemberi izin pembabatan hutan, dan para pelaksana pembabatan hutan di lapangan. Selain itu, sistem dan ideologi yang mengizinkan pembabatan hutan melebihi kapasitas lestarinya pun wajib disingkirkan untuk mencegah bencana yang sama kembali terulang. Demikian pula sistem dan ideologi yang berkontribusi utama dalam menyebabkan perubahan iklim antropogenik dalam bentuk pembakaran energi fosil tidak terkendali, selayaknya dibuang supaya kondisi bumi tidak bertambah buruk di tengah krisis iklim global yang makin lama makin sulit untuk menemukan jalan keluar.

Semoga Allah memberikan kesabaran dan pertolongan-Nya pada mereka yang terdampak bencana naturogenik-antropogenik di Sumatra, dan semoga Allah menjatuhkan hukuman-Nya pada para perusak alam semesta yang telah Dia amanatkan kepengurusannya pada umat manusia.

Selasa, 12 Agustus 2025

Peran Yang Harus Dikurang-Kurangi


Dalam kehidupan manusia posmodern, khusunya bagi seorang muslim, saya kira ada beberapa peran yang selayaknya dikurang-kurangi dan ada peran yang sebaiknya diperkuat.

Di sini saya bahas peran yang sebaiknya dikurangi dulu.

1. Polisi Adab

Now, now, tidak usah terpelatuk dulu. Mengingatkan soal adab dalam berbicara dan bersikap bukan kriteria tunggal menjadi Polisi Adab. Mengingatkan soal adab adalah bagian dari amar ma'ruf, bahkan nahi munkar. Itu bagus sekali. Lantas, masalahnya? Kalau berat sebelah. Dalam artian, sibuk bicara soal pentingnya adab dalam berbicara, tetapi tidak peduli sama sekali tentang kenapa bisa ada persoalan dalam adab tersebut.

Contohnya, ketika ada seseorang (sebut saja Hajime) yang mengkritik keras (hingga kasar) sebuah fenomena kekeliruan fatal dan kemaksiatan oleh Yoichi, kemudian (sebut saja) Kengo sibuk mengomentari adab Hajime yang agak-agak kurang. Tapi apakah Kengo berbicara soal kemaksiatan yang dilakukan oleh Yoichi? Tidak sama sekali. Semua energinya difokuskan untuk mengoreksi adab Hajime sehingga tidak ada energi tersisa untuk mengoreksi kemaksiatan Yoichi.

Itu yang namanya Polisi Adab. Sibuk dengan asap, tidak peduli dengan api. Peran seperti ini memang mudah dilakukan, tapi tidak berguna sama sekali bagi kehidupan manusia. Seharusnya dikurang-kurangi bahkan ditinggalkan.

2. Pahlawan Kesiangan

Alkisah, Shinichi dan Heiji sedang bertengkar karena Shinichi melihat bahwa Heiji sedang melanggar komitmennya sebagai seorang detektif, sementara Heiji melihat Shinichi terlalu pengecut untuk mengambil risiko dalam memecahkan kasus. Tanpa ba-bi-bu, Kogoro muncul berusaha mendamaikan keduanya dan mengatakan semua ini cuma soal perbedaan sudut pandang, tidak usah dibesar-besarkan, lebih baik fokus pada memecahkan kasus kriminal di Kota Taito.

Padahal masalahnya Heiji memang telah melakukan pelanggaran kode etik dalam penyelidikan kasus kriminal, dan Shinichi sedang berusaha menegakkan kode etik tersebut walau dikata-katai pengecut oleh Heiji. Di sini, Kogoro berperan sebagai Pahlawan Kesiangan. Dia berusaha menjadi pahlawan dengan menyelesaikan konflik, sayangnya di waktu, tempat, dan konteks yang keliru. Kogoro bahkan tidak pernah berusaha mendalami kenapa Shinichi dan Heiji bertengkar (karena keterbatasan intelektualitasnya), tapi bertingkah seolah dia menjadi pahlawan ketika berdiri di antara kedua detektif muda itu.

Peran sebagai Pahlawan Kesiangan ini selayaknya dikurang-kurangi oleh seorang muslim, karena selain tidak berguna sama sekali dalam kehidupan, posisinya juga jelas menambah keruh persoalan. Ketika dia tidak paham persoalan, lebih baik Kogoro ini diam saja dan pura-pura bodoh daripada membuka mulut dan malah kelihatan bodohnya.

3. Tukang Cebok

Ketika Heiji terbukti telah melakukan kesalahan dan melanggar kode etik penyelidikan kasus kriminal, dunia perdetektifan pun geger. Pihak-pihak dari Kepolisian Metropolitan Osaka dan semua yang berada di kubu Heiji pun menjadi gundah gulana. Pada momen itu, Kazuha muncul untuk membela tindakan-tindakan Heiji. Katanya, Heiji tahu kalau itu salah, tapi tetap dilakukan demi bisa memecahkan kasus, bahwa Heiji tidak mungkin tidak punya alasan untuk melanggar kode etik, dsb. Semua prasangka baik dilontarkan oleh Kazuha, berharap Shinichi, Ran, dan Kepolisian Metropolitan Tokyo masih mau berprasangka baik dan membenarkan tindakannya.

Apa yang dilakukan Kazuha adalah menjadi Tukang Cebok bagi kesalahan yang dilakukan oleh Heiji. Sudah jelas-jelas Heiji "bermaksiat" dengan melanggar kode etik, masih saja dibela. Semua harus dikembalikan pada niat, bahwasanya niat adalah yang paling utama. Prasangka baik harus diutamakan meski fakta yang terjadi adalah sebaliknya. Kenapa? Karena Kazuha dekat dengan Heiji, dan berada di kubu Heiji. Tidak lebih.

Bagi seorang muslim, menjadi Tukang Cebok bukan hanya tidak berguna dan menambah keruh persoalan, tetapi juga menjijikkan. Tidak beda jauh dengan pengacara yang membela pelaku tindak kriminal. Jadi sebaiknya perilaku seperti ini dihindari. Kalau memang menyadari berada di pihak yang salah, meski agak terlambat, tidak ada yang salah dengan mengakui kesalahan posisi tersebut dan mengoreksinya. Bukan malah nyebokin kesalahan orang, yang mungkin tidak tahu dan tidak peduli juga dengan dirinya.

Apakah masih ada yang lain? Mungkin ada, tapi saat ini tiga poin di atas saja dulu. Anda tidak harus setuju sepenuhnya, tapi sebaiknya direnungkan baik-baik.

Karena dunia posmodern problematik ini sudah terlalu bermasalah untuk menampung peran-peran tidak berguna tersebut, jadi tidak usah ditambah-tambah.

Senin, 11 Agustus 2025

Ketika Ruwaibidhah Diberi Panggung


Dari Abu Hurairah r.a.Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya akan datang kepada manusia tahun-tahun penipuan, di dalamnya orang yang berdusta dipercaya sedang orang yang jujur didustakan, orang yang berkhianat diberi amanah, sedang orang yang amanah dikhianati, dan di dalamnya juga terdapat al-ruwaibidhah.” Ditanya, “Apa itu al-ruwaibidhah wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Yaitu orang bodoh yang berbicara (memberi fatwa) dalam urusan manusia.” (HR Ahmad)

Ini bukan hadits asing. Hadits ini sering sekali dibahas khususnya dalam berbagai ceramah terkait urusan publik. Biasanya ditujukan pada entitas-entitas kepemimpinan, mulai dari yang kecil seperti lembaga riset maupun entitas yang lebih besar seperti negara. Karena hadits ini bersifat mujmal, jadi bisa diaplikasikan untuk berbagai konteks. Tidak hanya pemimpin negara saja, bahkan tanpa terikat dengan suatu entitas tertentu sekalipun.

Abad 21 baru berjalan seperempat abad, dan makin kesini para ruwaibidhah tampak semakin banyak. Siapapun bisa berbicara soal apapun tanpa koreksi dan kontrol memadai. Tom Nicholls menyebutnya sebagai The Death of Expertise. Kepakaran kini sudah mati, berganti dengan popularitas. FYP dan interaksi/engagement menjadi mata uang baru untuk menentukan benar atau salah, bisa dipercaya atau tidak. Bukan lagi kebenaran objektif, tapi persepsi subjektif. Asal dia tenar, dia bisa dipercaya sebagai orang yang kredibel. Contohnya banyak, mulai dari pedagang hoax berkedok agama, "guru" obesitas yang bicara segala hal seolah-olah dia pakar dalam semua bidang, mentalis/pesulap/penghibur tipuan mata yang alih haluan menjadi tuan rumah siniar, dokter influencer tapi STR mati, sampai dukun anonim berkedok medis.

Tipikal-tipikal orang sejenis itu layak disebut sebagai ruwaibidhah. Mengapa? Karena berbicara tanpa ilmu terkait urusan manusia luas. Berbicara soal kesehatan membawa-bawa kedok agama, tanpa memahami bagaimana fahmul waqi' dalam sebuah persoalan, tanpa memahami dalil apalagi istidlal hukum syara', tanpa memahami ilmu medis seperti apa. Semua "argumentasi" yang disampaikan berbasis pada appeal-to-emotion fallacy, cuma memantik emosi/perasaan audiens dengan tajuk-tajuk kontroversial dan premis-premis palsu, serta penggunaan dalil syara' tidak pada tempatnya. Tapi karena menggunakan emotional appeal inilah, mereka mudah menyesatkan warganet yang memang pada dasarnya jarang yang mampu berpikir kritis.

Truth is boring. Fear sells. (Hargraves, 2012)

Tidak ketinggalan pula seseorang yang punya gelar PhD di bidang teknologi pangan, tapi berbicara sangat jauh melampaui kepakarannya tersebut sampai ke topik climate change, pandemi Covid-19, dan genetically modified organism (GMO). Sudah begitu, kemampuan penalaran dalam membaca publikasi ilmiah (scientific paper, atau kita sebut saja paper) dan menganalisis datanya relatif rendah. Tapi pede sekali mengatakan ini dan itu yang KATANYA merujuk pada paper tertentu, tapi apa yang disampaikan dengan isi paper sama sekali berbeda. Alias salah menafsirkan isi paper. Mulai dari paper soal Covid sampai soal glifosat, keliru semua.



Nah, kira-kira, kalau para ruwaibidhah sejenis ini diberi panggung oleh mereka yang punya basis audiens cukup besar, apa yang akan terjadi?

Betul. PEMBODOHAN MASSAL. Bukannya mencerdaskan kehidupan bangsa, bukannya mencerdaskan pemikiran umat, malah melakukan pembodohan terhadap umat. Maka akan menjadi masalah besar, ketika sebuah komunitas Islam yang katanya mengajak "mengaji" kemudian memberi panggung kepada para ruwaibidhah sejenis ini, maka sama saja pengikut dan audiens komunitas ini disajikan panggung pembodohan! 

Ketika "guru" obesitas yang sering membahas topik secara keliru dan akurasinya rendah kemudian diberi panggung oleh forum siniar dengan basis audiens cukup besar, maka kesan yang muncul adalah "guru" obesitas ini adalah seorang yang kompeten dan bisa dipercaya oleh audiens komunitas tersebut. Khususnya bahwa para audiens tidak terbiasa dan tidak pernah dilatih berpikir kritis oleh komunitas Islami tersebut, sementara para tuan rumah siniar juga tidak pernah menganggap pernyataan-pernyataan kontroversial dan keliru "guru" obesitas sebagai hal yang patut dikoreksi, sehingga yang terjadi adalah para audiens menelan mentah-mentah sikap dan pernyataan "guru" obesitas alih-alih bersikap kritis.

Ketika PhD lompat pagar yang hobi bicara konspiratif berbekal pemahaman keliru terhadap paper yang dibacanya diberi panggung oleh forum yang sama, maka komunitas tersebut sedang mengekspos audiens mereka dengan penyesatan pemikiran yang berbahaya. Karena kepercayaan berlebih terhadap tuan rumah siniar, audiens jadi meyakini bahwa orang yang diundang ke dalam siniar tersebut adalah orang yang kompeten di bidangnya, sehingga apa yang disampaikan PhD lompat pagar itu dianggap sebagai sebuah kebenaran. Mulai dari konspirasi bahwa pandemi Covid-19 adalah rekayasa manusia, sampai kedelai GMO akan menyebabkan kanker. Hal ini diperparah bahwa tuan rumah siniar tidak ada seorang pun yang memilikii gelar doktoral dan tidak ada yang kompeten sama sekali dalam bidang sains.

Ketika orang-orang sosialis diberi panggung oleh forum yang sama, tanpa ada usaha untuk membongkar pemikiran kufur sosialisme, audiens yang tidak pernah dilatih berpikir kritis jadi mudah sekali tergoyangkan pemahamannya dan jadi tertarik untuk mempelajari karya-karya orang sosialis tersebut. Bukan untuk dibantah, tetapi dijadikan sebagai referensi!

Kenapa sampai komunitas Islami tersebut memberi panggung terhadap para ruwaibidhah? Apa mereka tidak pernah sadar tentang reaksi publik yang cenderung negatif terhadap beberapa pihak, dan kekeliruan pemikiran di pihak lain?

Sepertinya alasannya tidak jauh dari memancing interaksi. Karena sekali lagi, FYP dan engagement adalah cara untuk menjadi terkenal di era posmodern. Engagement adalah berhala yang mesti disembah demi memiliki nama. Akhirnya semua dampak susulan dari interaksi tersebut tidak diperhitungkan sama sekali, meskipun itu adalah dampak negatif. Para ruwaibidhah, yang seharusnya di-delegitimasi posisiya, malah diberi kesan positif dan dikembalikan kepercayaannya oleh audiens, semata-mata karena diundang oleh komunitas Islami yang dianggap memiliki kesan positif.

Penyesatan pemikiran massal tersebut juga menyulitkan kalangan intelektual sungguhan dan orang-orang yang lurus pemikirannya untuk menyadarkan masyarakat dari kekeliruan pemikiran para ruwaibidhah ini. Para saintis sudah mati-matian berusaha menjelaskan fenomena riil terkait pandemi Covid-19, eh malah disesatkan lagi oleh komunitas Islami yang mengundang ruwaibidhah. Jadi menambah pekerjaan lagi. Sama, ketika para guru dan akademisi sungguhan sedang mengkritik kesalahan berpikir "guru" obesitas, komunitas ini malah membuat ruwaibidhah satu ini tambah menggelembung namanya (juga kepalanya).

Dengan kata lain, siniar komunitas Islami ini membantu menyebarkan kebodohan, kesesatan, dan fitnah, serta mempersulit hidup para intelektual sungguhan dalam mencerdaskan pemikiran umat Islam!

"Mengaji" apa yang sesungguhnya mereka ingin tunjukkan dengan praktik pemberhalaan engagement ini?

Apa mereka tidak bisa mengundang orang-orang yang kompeten dan lurus saja alih-alih sekumpulan ruwaibidhah? Apa karena saking buruknya isi komunitas mereka, sehingga mereka hanya mengenal dan menganggap penting ruwaibidhah asal punya nama dan bisa mengundang audiens-interaksi?

Praktik yang dilakukan komunitas Islami seperti ini tidak ada manfaatnya sama sekali. Alih-alih menjadi pahala jariyah, apa yang mereka lakukan ini bisa menjadi dosa jariyah.

“Siapa yang mengajak kepada kesesatan, dia mendapatkan dosa, seperti dosa orang yang mengikutinya, tidak dikurangi sedikitpun.” (HR Muslim)

Sayang sekali bahwa pengurus komunitas Islami ini terkenal bebal, besar kepala, dan anti-kritik. Mereka menggunakan kacamata kuda dalam melakukan aktivitasnya dan tidak mengenal kekeliruan dalam apa yang mereka lakukan. Yang mereka tahu hanyalah bahwa semua pengkritiknya adalah hasad, dengki, benci, iri. Tidak beda jauh dengan “musuh” yang didengungkan sebagian anggotanya. Ironis bahwa mereka menjadi persis sebagaimana apa yang mereka musuhi. Seperti zionis yang begitu membenci Nazi, tapi akhirnya mereka bertingkah seperti Nazi Jerman.


Kalau sudah begini, tinggal tunggu kejatuhannya cepat atau lambat. Pada titik itu, apakah audiens mereka masih akan sedemikian loyal pada mereka? Ketika loyalitas tertinggi seorang muslim yang harusnya disandarkan pada Allah dan Rasul-Nya, kini dialihkan pada pengkultusan individu dan kelompok?

Sabtu, 02 Maret 2024

Hukum Asal Perkataan Mereka Adalah Bohong Sampai Terbukti Benar

Dalam ushul fiqh, ada kaidah syar'iyyah yang bunyinya kurang lebih begini,

"Hukum asal suatu perbuatan adalah terikat pada hukum syara'."

"Hukum asal suatu benda adalah mubah sampai ada dalil yang mengharamkannya."

Kedua kaidah ini berbicara terkait hukum asal dari benda dan perbuatan. Tidak ada yang lebih mendasar daripada ini, karena kehidupan manusia memang berkisar pada dua hal tersebut: Benda dan perbuatan. Terkait benda, maka hukum asalnya adalah mubah atau halal. Semua benda pada dasarnya halal, kecuali yang Allah nyatakan keharamannya. Misalkan darah, khamr, bangkai, babi, anjing, hewan yang disembelih tanpa menyebut nama Allah, dsb. Benda-benda yang diharamkan ini tidak terlampau banyak, jauh lebih banyak yang halal. Makanya kecuali bisa dibuktikan bahwa benda tertentu itu mengandung bahan yang diharamkan, hukumnya adalah halal.

Bukan sebaliknya, haram (minimal syubhat) sampai ada sertifikat halal MUI. Itu kaidah ngawur bin sesat yang tidak pernah dikenal dalam khazanah pemikiran Islam.

Btw, "bukti" di sini tidak perlu harus secara saintifik sekali, lho, ya. Pakai rasio pun bisa. Contoh, Anda lagi di Korea Selatan. Terus lihat ada daging sapi. Apa perlu dibuktikan secara saintifik bahwa itu haram? Ya enggaklah, ngaco. Pakai itu rasio! Sudah dikasih akal buat mikir kok lagaknya segala harus saintifik.

Sementara perbuatan adalah hal yang sama sekali berbeda. Perbuatan tidak ada yang bersifat netral, semua pasti ada nilai tertentu. Maka, perbuatan tidak bisa jatuh ke aspek halal-haram, melainkan ahkamul khamsah (wajib, mandub, mubah, makruh, haram). Dan nilai perbuatan tersebut masuk hukum yang mana, itu tergantung pada hukum syara' terkait perbuatannya. Makanya hukum asal dari perbuatan itu terikat pada hukum syara', bukan semua perbuatan itu mubah sampai ada larangannya. Ngawur itu.

Jadi, pada dasarnya selalu ada hukum asal dari sesuatu, entah benda maupun perbuatan. Tidak ada yang kosong dari hukum asal, bahkan sekalipun kita membawanya dalam konteks yang lebih luas.

Misalnya, "hukum asal pernyataan entitas ilegal penjajah israel adalah bohong." Nah, itu sudah jadi hukum dasar yang menjadi landasan berpikir seseorang. Bahwa, semua yang disampaikan oleh entitas penjajah ilegal itu, dalam kondisi apapun, adalah bohong. Mengingat, dari zaman Nabi Ya'kub masih hidup sekalipun, mereka adalah bangsa culas, pembohong, penipu, pengkhianat. Apalagi sekarang. Tidak ada kondisi pengecualian dalam kaidah ini, karena mereka sudah pasti membual, berbohong, untuk menjustifikasi eksistensi menjijikkan mereka dan genosida yang mereka lakukan.

Berdasarkan kaidah ini, maka semua pemberitaan yang bersumber dari entitas penjajah ilegal itu, adalah bohong, penipuan, propaganda. Titik. Selesai.

Ada juga yang mengajukan kaidah seperti, "hukum asal penyataan petinggi adalah bohong sampai terbukti bahwa mereka jujur." Jadi dalam konteks ini, para petinggi (entah itu lembaga, perusahaan, sekolah, univesitas, whatever) itu hanya bualan belaka, sampai terbukti bahwa pernyataan itu benar adanya dan terwujud di instansi mereka. Biasanya, hal ini bersumber dari ketidakpercayaan mereka pada petinggi-petinggi instansi tersebut, dan ketidakpercayaan muncul dari inkonsistensi antara ucapan dan perbuatan para petinggi. Jadi yang dibicarakan apa, yang dijanjikan apa, yang terjadi apa. Yang dijanjikan di awal pekerjaan administratif akan lebih ringan, realitanya malah jadi tambah berat.

Berdasarkan kaidah ini, omongan para petinggi hanya bisa dipercaya jika cuap-cuapnya sudah terbukti. Baru omongannya dianggap benar. Kalau tidak... ya kembali ke kaidah asal.

Kedua contoh kaidah ini kesamaannya apa? Keduanya bersumber dari distrust. Ketidakpercayaan pada subjek kaidah. Dalam konteks keorganisasian, entah organisasi apapun itu, distrust biasanya akan merapuhkan loyalitas bawahan terhadap atasan. Sebabnya? Banyak, tapi utamanya ya tadi: Inkonsisten, pembual, bahkan sering menetapkan kebijakan-kebijakan tidak menyenangkan bahkan merugikan. Kalau sudah begini, bagaimana bisa berekspektasi bahwa bawahan akan percaya pada janji-janji atasan?

Jadi semisal IDF merilis video bahwa warga Palestina mati bergelimpangan karena rebutan makanan, maka berdasarkan kaidah di atas, IDF itu berbohong. Karena realitanya memang kera-kera bau bangkai itulah yang menembaki warga Palestina yang kelaparan setelah mereka bom berbulan-bulan. Siapapun yang percaya narasi entitas penjajah ilegal israel, maka sesungguhnya dia punya IQ di bawah nol.

Juga misalkan ada petinggi instansi yang cuap-cuap soal keberhasilan kinerjanya atau target-target perubahan ke depannya, maka berdasarkan kaidah kedua, penganutnya akan menganggap petinggi itu cuma membual saja, sampai terbukti bahwa apa yang dia lakukan itu terwujud.

Ringkasnya, selalu ada hukum asal untuk sesuatu, bahkan dalam konteks luas. Termasuk kaidah terkait bohong, bahwa sebagian pihak ketika berbicara memang mulutnya penuh belepotan dengan membual dan berbohong. Yang model begini, apalagi dalam contoh kedua, akan sulit untuk menjadi instansi yang berjalan dengan baik. Karena model hubungan antara atasan dan bawahannya adalah berbasis distrust, bukan trust.

Till the next update,

Andika 

Senin, 12 April 2021

Tauhid Dari Fisika Atom

Oleh: R. Andika Putra Dwijayanto

Ketika para fisikawan berusaha memodelkan atom itu seperti apa, maka sebenarnya tidak ada yang pernah tahu benda seperti apa atom itu. Mereka hanya mengira-ngira, atom itu bentuknya macam apa, sih? Karena itu, pada masanya, model atom tidak pernah sama. Selalu berkembang.

John Dalton pada awalnya hanya menyatakan bahwa segala materi itu tersusun dari atom. Tiap atom dari elemen/unsur yang sama memiliki ukuran, berat, dan sifat lain yang sama. Selain itu, atom tidak bisa dipecah-pecah lagi menjadi lebih kecil. Namun, teori Dalton ini dikoreksi oleh Joseph John Thomson, yang menemukan elektron, partikel lebih kecil dari atom, ketika bekerja dengan sinar katoda. Model atom Dalton pun berkembang menjadi model atom puding plum, dengan tambahan elektron.
Ernest Rutherford kemudian menemukan kelemahan dari model atom Thomson, berdasarkan pengamatan terhadap radiasi alfa yang dipancarkan radium. Rutherford kemudian mengusulkan model atom dengan muatan positif konsentrik di inti (nucleus) atom alih-alih terdistribusi merata di dalam volume atom. Namun, model ini juga belum cukup menjelaskan atom dengan baik, Niels Bohr membuat model baru bahwa elektron mengelilingi inti atom pada orbit tertentu dengan momentum sudut dan energi tetap, dan jaraknya dari inti atom proporsional dengan tingkat energinya.
Teori atom pun kemudian terus berkembang ketika Rutherford dan murid-muridnya menemukan partikel subatomik yang kemudian disebut proton, disusul kemudian James Chadwick menemukan neutron. Demikian seterusnya sampai model atom dikembangkan sampai didapatkan model atom seperti saat ini, dengan adanya quark sebagai penyusun elemen hadron (proton dan neutron) serta gluon sebagai pengikat quark.
Sudah sempurna? Mungkin tidak. Tapi dalam berbagai hal cukup untuk menjelaskan fenomena-fenomena fisika terkait atom.
Pertanyaannya, apakah para ilmuwan itu pernah mengamati atom dan partikel subatomik secara langsung?
Tentu saja tidak. Karena bahkan Dalton sendiri menyatakan bahwa atom itu invisible, tidak terlihat.
Para fisikawan dan kimiawan pada masa itu mengembangkan teori atom berdasarkan fenomena ikutan yang mereka amati. Bahasa sederhananya, mengamati ‘jejak’ dari perilaku atom. Walau tidak bisa melihatnya, mereka percaya atom itu ada. Model atom modern berhasil ditemukan tanpa ada satupun manusia melihat atom, apalagi partikel subatomik. Tapi model itu berhasil menjelaskan bagaimana fenomena-fenomena fisika pada atom dan inti atom terjadi.
Tidak perlu benar-benar melihat sesuatu secara fisik untuk mengetahui sesuatu itu ada. Dari ‘jejak’ yang ditinggalkannya pun dapat dipahami bahwa ada sesuatu yang menciptakan ‘jejak’ tersebut. Termasuk eksistensi Tuhan.
Sebagian orang menolak eksistensi Tuhan karena mereka tidak bisa menginderanya. Dianggap tidak masuk akal, imajinasi manusia belaka, sebatas usaha manusia untuk menjelaskan fenomena yang tidak bisa dipahaminya. Hal terakhir, menurut mereka, tidak lagi relevan karena sekarang sudah ada sains. Tidak perlu Tuhan untuk menjelaskan fenomena yang terjadi di alam semesta, cukup dengan sains saja. Karena sains bisa diindera, Tuhan tidak.
Padahal, adanya Tuhan bisa dipahami dari apa yang telah Dia ciptakan; manusia, alam semesta, kehidupan. Sederhananya, tidak mungkin manusia, alam semesta, dan kehidupan muncul dengan sendirinya, atau menciptakan dirinya sendiri. Pasti ada sesuatu yang menciptakan. Tidak perlu sains untuk memahami hal seperti ini, cukup rasio.
Sebagaimana perilaku pantulan pantulan radiasi alfa lebih dari 90° merupakan tanda adanya konsentrasi partikel bermuatan positif pada inti atom, dan ionisasi materi dari tembakan radiasi merupakan tanda adanya partikel bermuatan netral, maka adanya manusia, alam semesta, dan kehidupan sendiri sudah menjadi tanda adanya Pencipta. Mengatakan bahwa alam semesta tidak bermula, atau bermula dengan sendirinya, merupakan bentuk pemerkosaan akal sehat, karena tidak ada dari keduanya yang bisa diterima akal.
Sesederhana itu memahami adanya Tuhan. Tidak perlu sains. Karena sains tidak didesain untuk menjawab siapa yang menciptakan alam semesta, manusia, dan kehidupan. Sains sejak awal dikembangkan sebagai model untuk memprediksi bagaimana alam semesta, manusia, dan kehidupan bekerja. Itu saja, tidak lebih.
Menggunakan sains sebagai penghakiman apakah Tuhan itu ada atau tidak merupakan pelanggaran terhadap prinsip saintifik itu sendiri.
Tuhan Pencipta manusia, alam semesta, dan kehidupan, Allah SWT, memang tidak bisa diindera. Allah sendiri tidak sama dengan ciptaanNya. Berada pada dimensi yang berbeda dengan ciptaanNya, tidak terikat pada apa yang diciptakanNya. Sebagaimana firmanNya.
Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia.” (QS Asy Syura’: 11)
Lagipula, kalau Tuhan memiliki kesamaan dengan ciptaanNya, maka entitas itu tidak layak disebut Tuhan.
Walau tidak bisa diindera oleh manusia, akal manusia mampu menjangkau bahwa Allah itu ada, dan Allah lah yang menciptakan semua yang ada di alam semesta ini. Kalau mengakui keberadaan atom sebagai konstituen dari materi saja bisa, bahkan partikel subatomik semacam quark dan hadron dipercaya ada walau tidak bisa diindera, dan eksistensinya hanya dipahami melalui pengukuran dan pemodelan, kenapa ketidakbisaan manusia untuk mengindera Allah secara fisik dijadikan alasan untuk menolak eksistensiNya? Padahal ada banyak sekali hal terindera untuk direnungi yang menjadi indikasi bahwa semua itu ada yang menciptakan?
Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan? Dan langit, bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi bagaimana ia dihamparkan?” (QS Al Ghasyiyah: 17-20)
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” (QS Ali Imran: 190)

Sabtu, 25 Januari 2020

Islam Selaras atau Bertentangan Dengan Sains?


Oleh: R. Andika Putra Dwijayanto

Kadang ada pertanyaan, "Apakah Islam bertentangan atau selaras dengan sains?"

Mungkin ada yang berpikir di kedua kubu. Yang agak-agak sok oPeN mInDeD mungkin akan melihat fenomena sains modern banyak yang bertentangan dengan sains. Sementara, yang lebih konservatif akan mengatakan bahwa Islam selaras saja dengan sains.

Kedua kubu ini keliru, walau kubu oPeN mInDeD tingkat kekeliruannya lebih tinggi.

Sebenarnya, bagaimana mungkin Islam dikatakan bertentangan atau selaras dengan sains, sementara sumber utama hukum Islam, Al Qur'an dan as sunnah, tidak secara khusus membahas sains dan tidak ditujukan sebagai kitab panduan sains?

Al Qur'an diturunkan sebagai huda wal furqan. Petunjuk bagi umat manusia dan pembeda antara yang haq dan bathil. Sementara sains merupakan pengamatan akan fenomena fisik yang ada pada manusia, alam semesta, dan kehidupan. Sains sudah ada jauh sebelum Al Qur'an diturunkan kepada Rasulullah Muhammad ﷺ, dan Al Qur'an sama sekali tidak ditujukan untuk menjelaskan fenomena sains.

Al Qur'an sebatas memberi inspirasi bagi manusia untuk memahami sesama manusia, alam semesta, dan kehidupan. Mengamati fenomena-fenomena di sekitar manusia agar menyadari kebesaran Allah dan sangat tidak berartinya manusia. Pengamatan ini juga supaya manusia dapat memanfaatkan fenomena alam dengan baik untuk keperluan hidup manusia, entah sebatas pemanfaatan apa adanya ataupun melalui rekayasa.

Masalah terakhir sudah diindikasikan oleh Rasulullah SAW dalam kasus penyerbukan kurma di Madinah. Beliau bersabda, "Kalian lebih mengetahui urusan dunia kalian." Kaitannya adalah dengan masalah sains dan teknologi, yang mana hal tersebut diserahkan pada akal dan pengetahuan manusia.

Al Qur'an juga memberi panduan tentang halal-haram terkait benda serta ahkamul khamsah terkait perbuatan, yang kemudian harus diaplikasikan dalam praktik saintifik. Dengan begini, perkembangan sains di tangan seorang muslim dapat berlangsung tidak sekadar baik, tetapi juga benar.

Dengan demikian, pada hakikatnya, Islam menyerahkan masalah sains pada manusia, Allah menyuruh manusia menggunakan akalnya untuk berpikir. Dari berpikir dan mengamati inilah manusia bisa menemukan dan memahami fenomena fisik tersebut, entah dalam taraf pasti (qath'i) atau dugaan kuat (ghalabatudzh dzhann). Islam juga memberi aturan tentang ahkamul khamsah sebagai panduan bagi manusia dalam proses pengamatan fenomena alam tersebut.

Karena alasan tersebut, tidak bisa dikatakan bahwa Islam selaras atau tidak selaras dengan fenomena sains tertentu. Karena Islam sudah menyerahkannya pada manusia. Jikalau kemudian ada fenomena fisik yang ternyata bersesuaian dengan ayat-ayat Al Qur'an, maka itu semata-mata merupakan bukti kebesaran Allah.

Namun, pada dasarnya, kita tidak perlu merujuk pada Al Qur'an untuk membahas fenomena sains. Jadi, lucu kalau ada yang harus merujuk pada Al Qur'an dan tafsirnya untuk mengetahui bumi ini bulat atau datar, apakah bumi berputar atau statis, apakah matahari mengitari bumi atau bumi mengitari matahari, dan lain-lain. Semua itu sama sekali tidak dipelrukan, karena masalah bentuk bumi, rotasi bumi, serta revolusi bumi, semua adalah fenomena fisik yang dapat diamati oleh indera manusia. Fenomena fisik ini merupakan fenomena fisik statis, kondisinya tetap dari masa ke masa. Pengamatan terhadap contoh-contoh tadi adalah pengamatan yang dapat mencapai derajat qath'i, laa raiba fiih. Sama qath'i-nya dengan kita dapat memahami bahwa panas dari matahari merupakan hasil fusi nuklir bukan pembakaran hidrokarbon.

Islam selalu sesuai dengan realitas, karena Al Qur'an berasal dari sumber yang mustahil salah. Namun, Islam tidak bisa dikatakan bertentangan atau selaras dengan sains, karena Islam tidak mengurusi fenomena sains. Jika kebetulan ada dugaan saintifik yang selaras dengan ayat Al Qur'an, maka kita pandang hal tersebut sebagai bukti ke Maha Kuasa an Allah. Namun, dalam hal ini harus berhati-hati, karena kalau orang yang tidak memahami relasi Islam-sains dengan benar, akan cenderung otak atik gatuk. Menghubung-hubungkan yang tidak ada hubungannya. []

Selasa, 14 Agustus 2018

Time Wasting Ala CInta-cintaan Remaja


Oleh: R. Andika Putra Dwijayanto

Ada seorang teman yang nulis kalimat ini, kemungkinan hasil dari tontonannya di YouTube:

“Nasi kita buang sebutir dibilang mubadzir, lah umur dibuang-buang begitu aja tanpa nglakuin hal bermanfaat nggak kita bilang mubadzir *facepalm*” (Maulidina, 2015)

Itu kurang lebih merangkum kebiasaan anak muda soal kehidupan cintanya. Youth love in a nutshell.

Cinta-cintaan remaja itu biasanya time wasting. Buang-buang waktu. Kalau di sepakbola, time wasting ini dilakukan oleh tim yang menang di akhir-akhir pertandingan buat mengulur-ngulur waktu. Tujuannya, biar lawan nggak bisa merebut bola dan memastikan kemenangan. Tapi, konteks ini nggak nyambung kalau diaplikasikan ke cinta-cintaan remaja, jadi abaikan saja.

Buang-buang waktu anak muda dalam hal cinta-cintaan bau kentut adalah karena dua hal: 1. Mereka menghabiskan waktu buat sesuatu yang salah, dan 2. Karena sesuatu itu salah, maka jadi nggak penting buat dilakukan. Keduanya beda, tapi sama-sama nggak berguna dalam suatu segi.

Yang pertama, menghabiskan waktu buat sesuatu yang salah. Coba, kalau anak muda misalnya terjebak dalam paradigma ngawur soal cinta? Bahwa kalau misalnya cinta itu harus dibuktikan lewat pacaran? Kalau cinta maka harus pacaran? Maka dia akan melakukan segala usaha buat memacari sang Pujaan hati… Apa kabarmu? Kuharap, kau baik-baik sajaaa~

Ehem. Oke, itu lirik lagu zaman kapan tahu. Purbakala, mungkin, aku nggak mau repot-repot nyari tahu. Tapi itu merangkum kerjaan Para Pencari Pacar ini. Mikirin sang pujaan hati sampai lupa makan, lupa tidur, lupa nyuci piring, sampai lupa jadwal kuliah. Yang pasti terjadi adalah lupa Tuhan. Lupa Allah. Karena dalam pandangan Para Pencari Pacar, apalagi yang level ekstrem, mengetahui apakah pujaan hatinya udah makan atau belum adalah lebih penting ketimbang mengetahui udah berapa ratus kali shalat wajib yang dia tinggalin dan berapa ratus larangan Allah yang dia langgar. Jadi jangankan sadar dosa, keberadaan dosanya aja masa bodoh, nggak mau tahu, peduli setan. Siapa elu? Emang elu penting, ya? Nggak bakal jauh dari sana.

Belum lagi kalau udah pacaran. Apa ada orang yang pacaran tapi nggak pernah komunikasi? Nggak pernah ngajak jalan bareng? Makan bareng? Dan segala macam tetek bengek pacaran yang aku nggak paham satu persatu kenapa para aktivis pacaran ini kepikiran buat melakukannya? Impossibru! Nggak mungkin. Sehari komunikasi itu minimal bisa sejam dua jam, secara akumulatif. Sehari nggak ada SMS atau pesan LINE dari pacar, rasanya kayak ditinggalin Bang Toyib tiga kali puasa tiga kali lebaran. Ngambek, bad mood, curhat sana-sini. Sekalinya komunikasi, hal-hal remeh temeh super nggak penting sedikitpun macam tadi pagi udah BAB atau belum aja diomongin. Bloody hell…

Kalau ditambah sama kegiatan jalan-jalan di luar rumah, wasting time-nya bisa makin gila dan parah. Ke kebun binatang, ke Ancol, ke Parangtritis, ke kuburan Cina, ke tempat makan Amigos (baca: agak minggir got sedikit), kemanapun. Sebentar? LOL keep dreaming. Bisa berjam-jam bahkan sampai semalaman! Kadang sampai harus nginep di kediaman salah satunya, yang hampir selalu berujung pada Kejadian Paling Tidak Diharapkan Nomor Satu Dalam Pacaran Tapi Dengan Bodohnya Selalu Saja Dilakukan. If you know what I mean.

Senang? Pasti senang. Kata siapa yang begituan nggak menyenangkan? Yoi, ma bro. Berguna? Not. A. Single. Chance. Sama sekali nggak. Kenapa? Lha wong yang mereka lakuin nggak ada yang bener. Pacaran adalah Pelanggaran Nomor Satu dari Statuta Interaksi Antara Pria dan Wanita, yang memiliki konsekuensi dosa dari Sang Pencipta. Sang Pencipta, Allah SWT, menentukan bahwa tindakan pacaran itu melanggar larangannya. Tindakan salah. Ya wajar kalau kena dosa. Lantas, apa implikasinya? Artinya memang pacaran itu time wasting. Buang-buang waktu, melakukan sesuatu yang salah.

Kedua, karena sesuatu itu salah, jadi nggak penting buat dilakukan. Manusia dikasih pilihan itu buat diuji, dia bakalan mikir pake otaknya buat milih yang bener apa yang salah? Nggak, Sang Pencipta nggak pernah maksa kita buat milih. Kita bebas milih. Tapi kita juga yang nanggung konsekuensinya, entah milih yang bener atau salah. Itu udah ada di area yang kita kuasai. Nggak bisa lari dari tanggungjawab.

Sesuatu yang bener belum tentu penting buat dilakukan. Ngasih sedekah itu bener, tapi kalau sedekahnya ke orang berduit? Ya nggak penting. Tapi kalau sesuatu yang salah, apa penting buat dilakukan? Penting. Tapi buat ditinggalkan. Dilakukan? Jawabannya jelas banget, sama sekali nggak penting. Menggunakan sisa waktu hidup di dunia buat melakukan sesuatu yang nggak penting, apa bukan wasting time itu namanya? Senang sih senang, bisa berleha-leha bareng pacar atau gebetan, kencan mulai dari KFC sampai kamar kos, makan bareng sambil suap-suapan es krim yang tanpa sengaja tercampur potongan kecoak, ngobrol mesra, de el el. Siapa yang nggak akan melayang ke langit ketujuh? Sayangnya, nggak ada gunanya.

“Demi waktu, sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian.” (QS Al-Ashr: 1-2)

Secara filosofis, usia manusia itu nggak bertambah. Justru berkurang. Sejak sebelum manusia lahir, Allah SWT udah menentukan kapan manusia itu mati. Dan nggak ada manusia yang tahu kapan batas usianya habis. Normalnya, fakta ini harusnya bakalan memicu manusia buat berusaha menggunakan sisa waktunya yang tiap detik terus berkurang demi menyelesaikan ujian dunia dengan baik. Ya, dunia ini ujian. Hasilnya cuma dua alternatif: surga atau neraka. Sayang kalau waktu yang terbatas ini cuma digunakan buat wasting time. Buang-buang waktu, ditambahi dosa pula. Padahal tahu kapan bakalan mati aja nggak.

Imam Hasan Al-Bashri pernah mengibaratkan bahwa manusia itu cuma kumpulan hari. Dengan berlalunya suatu hari, maka hilang pula sebagian dari manusia itu. Lalu, apa kira-kira yang bakalan terjadi kalau sebagian dari diri kita hilang meninggalkan tumpukan dosa akibat membuang-buang waktu untuk hal yang salah dan nggak penting? Happy endingImpossibru.

Sayang banget kalau masa muda cuma dipakai buat senang-senang yang rata-rata salah dan menyesatkan, apalagi urusan cinta-cintaan. Senangnya sesaat, sakitnya tuh di sini bisa selamanya.

Rasulullah ﷺ bersabda, “Diantara baiknya keislaman seseorang adalah ketika ia meninggalkan apa yang tidak bermanfaat baginya.” (HR Ahmad)

Imam asy-Syafi’i r.h. mengatakan, “Aku pernah bersama dengan orang-orang sufi. Aku tidaklah mendapatkan pelajaran darinya selain dua hal. Pertama, dia mengatakan bahwa waktu bagaikan pedang. Jika kamu tidak memotongnya, maka dia akan memotongmu. Kedua, jika dirimu tidak tersibukkan dengan hal-hal yang baik, pasti akan tersibukkan dengan hal yang sia-sia.

Apalagi buat anak muda. Rasulullah ﷺ bersabda, “Tidaklah kedua kaki seorang hamba tergelincir ke dalam neraka sampai ditanya tentang empat hal: tentang umurnya bagaimana dia habiskan, tentang masa mudanya bagaimana dilewati…” (HR Thabrani)

See?

Kehidupan percintaan remaja mainstream itu tipikalnya selalu buang-buang waktu dan numpukin dosa. Bersenang-senang, berleha-leha buat sesuatu yang nggak ada gunanya. Apakah layak buat dilakukan? Jawabannya tentu bisa disimpulkan sendiri.

Kamis, 02 Agustus 2018

Sesat Pikir Syubhat

Kalau ada sesuatu (benda/makanan/obat/etc) yang diduga belum jelas asal usul bahannya, apa langsung bisa dicap bahwa itu syubhat?

Pertanyaan saya: Syubhat itu menurut siapa? Orang awam?

Kalau orang awam menghakimi sesuatu sebagai syubhat, padahal dia sama sekali tidak ada usaha untuk mencari tahu kebenarannya, mohon maaf, itu tindakan BODOH. Kalau memang ragu akan sesuatu, yang seharusnya dilakukan adalah BERTANYA PADA YANG TAHU. Siapa yang tahu? Pakar!

Ragu soal kehalalan vaksin? Tanya pada dokter yang memiliki kepakaran di bidang terkait! Bukannya karena belum memiliki sertifikat halal lantas langsung dicap syubhat apalagi haram. Itu dungu beyond recognition. Karena sertifikat halal bukan penentu kehalalan, tapi komponen di dalam vaksin itu sendiri. Yang tahu soal komponen vaksin siapa? Pakar kesehatan! Bukan tukang herbal, bukan sarjana hukum, bukan orang awam!

Kehancuran umat terjadi ketika urusan tidak idiserahkan pada orang-orang yang kompeten. Demikian pula, kehancuran berpikir umat Islam tidak akan pernah bisa diperbaiki selama umat tidak menyerahkan masalah-masalah kepakaran pada pakarnya. Urusan vaksin tidak dipercayakan pada pakar kesehatan. Urusan kelistrikan tidak dipercayakan pada pakar energi. Urusan iklim tidak dipercayakan pada climate scientist. Ya wassalam.

Kalau tidak percaya pada pakar, lantas percaya pada siapa? Pada penghakiman diri sendiri? Lha, memang situ punya kompetensi apa soal fakta yang dihukumi itu? Situ dokter? Imunolog? Farmasis? Belajar metode ilmiah saja tidak pernah. Tahu cara kerja pengobatan preventif saja tidak. Eh, malah sok-sokan ngoceh sana sini "ini syubhat! itu syubhat!"

Tidak percaya pakar tapi lebih percaya penghakiman diri sendiri yang awam, apa namanya kalau bukan dungu?

"Tapi kata ustadz ini belum ada sertifikat halalnya, jadi harus dihentikan!"

Mohon maaf, ustadz itu punya kepakaran apa soal sesuatu yang dihukumi tersebut? Beliau dokter? Farmasis? Bukan? Lantas, beliau tahu apa soal status benda (baca: vaksin) yang dipersoalkan itu?

Seseorang boleh jadi sampai taraf mujtahid. Punya ilmu alat yang lengkap. Pisau bedah hukum syara'-nya lengkap. Tapi kalau beliau tidak paham fakta, percuma saja status mujtahidnya itu. Produk hukumnya pasti salah. Maka, mujtahid sekalipun harus menggali fakta dari mereka yang kompeten, bahkan sekalipun pakar itu adalah orang kafir!

Syubhat buat orang awam belum tentu syubhat buat pakar. Maka, alih-alih seenak jidat mengatakan ini itu sebagai syubhat, sebaiknya TANYA PADA PAKAR. Berusaha semaksimal mungkin untuk mengetahui faktanya seperti apa, cek dan ricek dari berbagai sumber kredibel. Kalau sedikit-sedikit harus bergantung pada fatwa MUI, buang saja otak di kepala situ. Percuma dikasih otak kalau tidak dipakai berpikir.

Jumat, 25 Mei 2018

Ramadhan #7: Kesombongan

Sekitar dua hari lalu, waktu tilawah Qur'an, saya sampai pada ayat yang menjelaskan kronologi diusirnya iblis dari surga di Surat Al A'raf. Alasannya tampak sangat sepele, tapi sebenarnya serius. Iblis merasa tinggi hati. Merasa lebih baik dari Adam. Ana khairu minhu. Iblis diciptakan dari api, sementara Adam dari tanah. Merasa 'kasta'-nya lebih tinggi, Iblis pun menolak sujud pada Adam, ketika diperintahkan oleh Allah.
Karena satu kesalahan yang bagi orang-orang pada umumnya terdengar sepele itu, Iblis diusir dari surga dan dilaknat oleh Allah, serta akan dijebloskan ke dalam neraka di Hari Pembalasan. Karena satu kesalahan saja: Sombong.
Meski tampak sepele, kesombongan pada hakikatnya adalah dosa besar. Bahkan Rasulullah SAW menegaskan bahwa tidak akan masuk surga orang-orang yang masih ada kesombongan dalam hatinya, walau hanya sebesar biji sawi. Dalam literatur Nasrani sekalipun, sombong merupakan satu dari Tujuh Dosa Besar. Penegasan Rasulullah terkait kesombongan jelas merupakan qarinah bahwa sombong itu merupakan keharaman, dosa besar.
Kenapa dosa besar? Implikasi dari kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain. Ketika disampaikan sebuah kebenaran, dia menolak. Akhirnya jadi tenggelam dalam kesalahan dan atau kesesatannya. Merendahkan orang lain, artinya menganggap rendah seseorang yang sebenarnya tidak rendah. Sesungguhnya Iblis tidak lebih mulia kedudukannya dari Adam, tetapi Iblis merendahkan Adam hanya karena Adam diciptakan dari tanah. Jadinya merasa lebih hebat dan bisa jadi semena-mena. Merendahkan orang lain ini berkaitan erat dengan menolak kebenaran.
Selesai membaca ayat-ayat itu, saya jadi terpikir beberapa hal. Pertama, betapa buruknya diri saya, karena masih banyaknya kesombongan dalam hati ini. Semoga Allah mengampuni saya dan mencegah saya dari terus memelihara kesombongan.
Kedua, jika Iblis diusir dari surga karena bersikap sombong dan kelak akan kekal di neraka, lantas bagaimana dengan orang-orang yang menolak hukum-hukum Allah? Menolak perintah-perintahNya untuk diaplikasikan dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari individu, masyarakat hingga negara? Menolak karena hawa nafsunya dan atau, wal 'iydzu billah, menolak karena menganggap wahyu Allah lebih rendah daripada apa yang ditetapkan dari akalnya sendiri! Padahal di sisi Allah lah kebenaran yang hakiki berada. Allah lah yang memiliki kedudukan tertinggi dalam penentuan hukum dan peraturan hidup, karena Dia lah Pencipta manusia, alam semesta dan kehidupan.
Bukankah penolakan terhadap hukum Allah itu merupakan kesombongan yang nyata?
Lantas, bagaimana nasib mereka yang sombong terhadap hukum-hukum Allah di akhirat kelak?
Semoga kita dihindarkan dari kesombongan, khususnya kesombongan terhadap hukum-hukum Allah. Dan bagi yang saat ini masih memiliki kesombongan terhadap Allah, terhadap hukum-hukum yang diperintahkanNya untuk diterapkan dalam kehidupan pribadi, masyarakat dan negara, semoga mereka menyadari kesalahannya dan bertaubat sebelum nyawanya berada di tenggorokan. Kalau tidak, Iblis akan merasa senang mendapatkan teman dalam siksaan abadinya.

Rabu, 23 Mei 2018

Ramadhan #6: Membaca dan Berpikir

Al Qur'an menyuruh manusia untuk membaca dan berpikir. Ayat Al Qur'an pertama yang turun pada Rasulullah adalah "Iqra". Bacalah! Sementara, seruan untuk berpikir banyak tertera dalam berbagai ayat Al Qur'an, misalnya

وَهُوَ ٱلَّذِى مَدَّ ٱلْأَرْضَ وَجَعَلَ فِيهَا رَوَٰسِىَ وَأَنْهَٰرًاۖ وَمِن كُلِّ ٱلثَّمَرَٰتِ جَعَلَ فِيهَا زَوْجَيْنِ ٱثْنَيْنِۖ يُغْشِى ٱلَّيْلَ ٱلنَّهَارَۚ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَٰتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

"Dan Dia yang menghamparkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai di atasnya. Dan padanya Dia menjadikan semua buah-buahan berpasang-pasangan; Dia menutupkan malam kepada siang. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berpikir."
(QS Ar Ra'du: 3)


Akidah Islam adalah akidah rasional. Ia tidak dibentuk dari dogma apalagi circular reasoning. Membuktikan keberadaan Tuhan dan membuktikan bahwa Al Qur'an adalah wahyu Allah dapat dilakukan secara rasional, tidak dogmatis. Mereka yang benar-benar menggunakan akalnya, dengan asumsi tidak dikalahkan oleh hawa nafsunya, pasti akan menemukan kebenaran Islam. Bahwa Tuhan itu ada, bukan semata-mata khayalan manusia, dan Tuhan itu adalah Allah. Al Qur'an adalah wahyu Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah.

Hanya orang-orang yang membaca dan berpikir yang mampu memahami semua itu.

Lantas, jika ada segolongan manusia yang menolak untuk membaca dan berpikir, bahkan mengkriminalisasi dan menstigmatisasi negatif kalangan pemikir, sebagai akibat dari fanatisme buta terhadap sebuah dogma yang dianggap tidak bisa diganggu gugat, layakkah mereka disebut sebagai anti-Al Qur'an bahkan anti-Tuhan? Karena sesungguhnya menolak berpikir berarti menolak seruan Allah agar manusia berpikir, menggunakan akalnya.