Oleh: R. Andika Putra Dwijayanto, M.Eng.
Sejauh ini, kita
memahami PLTN itu dibangun di atas tanah. Lahan sekitar 1 km2
dikosongkan, lalu dibangun PLTN di atasnya. Dibuat zonasi untuk mencegah ada
ancaman keselamatan maupun keamanan terhadap PLTN. Tidak ada yang boleh masuk
ke dalam PLTN kecuali dengan izin. Dengan kata lain, business as usual,
tidak ada bedanya dengan instalasi pembangkit listrik lain.
Di sisi lain,
beberapa negara seperti Indonesia agak rawan gempa bumi. Meski tidak berarti
PLTN tidak bisa dibangun, karena itu adalah masalah struktur bangunan, tetapi
kadang isu ini agak menyulitkan untuk mencari lokasi tapak yang pas. Selain
itu, kontur negara kepulauan juga kadang agak menyulitkan untuk membangun PLTN
di pulau-pulau kecil.
Dalam kondisi
seperti ini, apakah PLTN bisa dibangun di atas kapal? Supaya tidak perlu
repot-repot membangunnya di atas lahan tanah ketika kondisi tidak memungkinkan?
Menariknya,
Reaktor Berpendingin Air tipe PWR itu pada awalnya memang didesain untuk
dibangun di atas kapal. Tepatnya untuk propulsi kapal selam. Lalu faktanya,
saat ini sudah banyak PLTN yang dipasang di atas berbagai jenis kapal,
khususnya kapal selam dan kapal induk.
Militer Amerika
Serikat dan Prancis memiliki kapal induk bertenaga nuklir. Kapal induk seperti
ini bisa dioperasikan selama 30-an tahun tanpa perlu mengisi ulang bahan bakar
dan memiliki jangkauan di laut practically unlimited, terbatas hanya
dari cadangan makanan. Demikian pula kapal selam nuklir, yang dimiliki oleh AS,
Prancis, Rusia, Cina, hingga India.
Rusia memiliki
sederetan kapal pemecah es untuk membuka jalur laut di Samudera Arktik, agar
kapal pembawa batubara dan migas bisa lewat jalur utara bumi. Kapal pemecah es
ini merupakan kapal bertenaga nuklir yang digunakan untuk keperluan sipil, yang
menunjukkan bahwa PLTN bisa dipasang di atas kapal. Instalasi ini kita
sebut sebagai PLTN terapung.
Ada beberapa
jenis PLTN terapung, tapi di sini kita hanya akan membahas soal offshore
nuclear power plant (ONPP). Jadi PLTN ini dipasang komplit semuanya di atas
kapal, mulai dari reaktor nuklir hingga sistem konversi energinya. Unit
reaktornya bisa 1, 2, 4, terserah desainernya. Listrik yang dibangkitkan dari
PLTN ini bisa digunakan untuk menggerakkan kapal dari tempat pembangunan ke
tempat tujuan, lalu setelah sampai, diparkir di dermaga (atau beberapa km dari
garis pantai, tergantung maunya seperti apa) dan mengalirkan listrik ke
jaringan listrik di lokasi tujuan.
Ada beberapa keunggulan dari penggunaan PLTN terapung untuk wilayah
kepulauan. Pertama, karena dipasang di atas kapal, maka kendala-kendala tentang
pembebasan lahan praktis tidak ada. Cuma butuh sambungan ke jaringan listrik
saja. Isu patahan tektonik yang menjadi perhatian dalam pembangunan PLTN
pun secara otomatis lenyap. Gempa tidak lagi menjadi persoalan.
Kedua, PLTN terapung bisa menjangkau kawasan-kawasan kepulauan kecil dan
wilayah yang sulit dijangkau melalui darat seperti beberapa kawasan di Papua.
Karena PLTN terapung sudah dibangun dan terpasang di kapal sejak sebelum
pemberangkatan, tidak ada pembangunan yang perlu dilakukan di kepulauan kecil
dan wilayah yang sulit terjangkau tersebut selain fasilitas sambungan jaringan
listrik. Jauh lebih memudahkan daripada harus membangun pembangkit di lokasi.
Tidak hanya itu, kebutuhan bahan bakar nuklir sedikit dan siklus
operasinya panjang, sekitar 24-36 bulan. Jadi, bahan bakar untuk 10-20 tahun
operasi dapat dimuat di dalam kapal. Atau, untuk alasan keamanan, baru dikirim
ke lokasi menjelang akhir siklus bahan bakarnya. Sehingga, suplai bahan bakar
sama sekali bukan masalah bagi PLTN terapung, tidak seperti PLTU atau PLTG.
Ketiga, PLTN terapung umumnya memiliki daya kecil, antara 40-120 MWe.
Itu cukup untuk daerah-daerah kepulauan yang notabene kebutuhan listriknya
tidak sebanyak di Jawa. Membangun PLTN darat dengan daya lebih dari 250 MWe
jelas sebuah pemborosan yang tidak perlu, jadi PLTN terapung memiliki skala
rentang daya lebih pas.
Keempat, lebih selamat dari tsunami. Sifat gelombang tsunami adalah baru
mulai meninggi ketika mencapai air dangkal, tapi di air yang lebih dalam nyaris
tidak terasa. Karena panjang gelombang tsunami di permukaan laut dalam sangat
panjang, amplitudonya jadi kecil. Sehingga, PLTN terapung yang doknya berada di
permukaan laut dalam tidak akan terpengaruh oleh gelombang tsunami.
Secara teoretis, eksistensi PLTN terapung ada kemungkinan bisa membantu
dalam peringatan dini tsunami. Sistem instrumentasi pendeteksi dini tsunami
bisa dipasang di PLTN terapung. Karena tidak ada masyarakat yang bisa begitu
saja naik ke atas kapal pengangkut PLTN ini, vandalisme dan pencurian terhadap
komponen sistem peringatan dini tsunami bisa dikatakan tidak akan terjadi. Tapi
ini butuh konfirmasi dari pakar di bidangnya.
Kelima, PLTN terapung bisa digunakan untuk desalinasi air laut. Hal ini
penting untuk wilayah-wilayah yang sering kekurangan air bersih, misalkan di
daerah Nusa Tenggara. Selain membangkitkan listrik, panas buangan dari PLTN
terapung bisa digunakan untuk desalinasi air laut, menghasilkan air bersih yang
layak digunakan untuk keperluan sehari-hari masyarakat.
Ke depannya, selain desalinasi air laut, PLTN terapung berpotensi juga
memproduksi bahan bakar sintetis. Jadi, PLTN terapung digunakan untuk
hidrolisis air dan memisahkan CO2 dari air laut. Hidrogen dan
CO2 yang dihasilkan kemudian disintetis untuk menghasilkan
bahan bakar mirip bensin untuk keperluan transportasi. Keunggulan dari bahan
bakar sintetis ini adalah netral emisi CO2 dan tidak ada
kontamintasi pengotor.
Keenam, level keselamatan tinggi. Kontras dengan asumsi sebagian orang
ketika pertama mendengar PLTN terapung, tingkat keselamatannya tidak berkurang,
malah mungkin lebih baik. Setidaknya, dari segi termohidrolik. Karena posisinya
berada di atas permukaan laut, PLTN terapung memiliki akses pendingin yang
secara praktis tidak terbatas. Air laut menjadi heat sink alami
bagi reaktor nuklirnya. Ketika misalnya terjadi overheating,
pendinginan reaktor dapat dilakukan tanpa harus khawatir kekurangan suplai
pendingin eksternal seperti di Fukushima Daiichi.
Bagaimana kalau terjadi sebuah skenario tidak diinginkan yang
menyebabkan kapalnya tenggelam? Bahan bakar nuklir akan tetap tersegel di dalam
reaktor. Lalu, air laut secara otomatis akan mendinginkan reaktor sehingga pelelehan
bahan bakar dapat dicegah (kecuali Reaktor Berpedingin Garam, maka bahan
bakarnya akan memadat, yang juga berita bagus). Ketiadaan pelelehan menyebabkan
pelepasan radioaktivitas akan sangat minim, kalau bukan tidak ada. Air laut
tidak akan terkontaminasi material radioaktif dari reaktor nuklir yang
tenggelam.
Rusia dan Cina tengah mengembangkan PLTN terapung tipe ONPP. Akademik
Lomonosov, kapal bertenaga nuklir desain Rusia, adalah PLTN terapung pertama di
dunia. Saat ini, Akademik Lomonosov telah beroperasi di Pevek, Rusia. Akademik
Lomonosov memiliki dua unit PLTN tipe PWR berdaya total 70 MWe, dengan fungsi
lain untuk menyediakan pemanasan ruang dan desalinasi air laut.
Namanya teknologi, pasti ada saja kekurangannya. Karena tidak ada
perimeter seperti di PLTN darat, sistem proteksi fisik PLTN terapung harus
lebih diperhatikan. Masalah proteksi fisik sebaiknya juga dikoordinasikan
dengan militer, kalau di Indonesia dengan TNI AL. Perawatan pun mengharuskan si
kapal dibawa kembali ke pabrikannya, walau memang jadwal perawatannya tidak
sering. Masalah keselamatan radiasi juga mesti disosialisasikan dengan baik
pada nelayan-nelayan yang melaut di sekitar sana, jika ada. Tujuannya supaya
resistensi masyarakat sekitar terhadap PLTN terapung bisa diminimalisir dan
tidak mudah diprovokasi oleh kalangan anti-nuklir, jadi tidak mudah ditipu oleh
LSM anti-nuklir seolah-olah PLTN terapung membuat ikan-ikan jadi radioaktif or
something.
Ringkasnya, PLTN memang bisa dipasang di atas PLTN dan bisa untuk keperluan komersial. Sudah ada pengalaman puluhan tahun dari kapal militer dan sipil yang menggunakan energi nuklir. Bahkan belakangan ini wacana untuk menggunakan energi nuklir untuk menggerakkan kapal kargo mulai banyak bermunculan, sebagai pengganti mesin Diesel yang kotor dan polutif. Jadi, potensi energi nuklir untuk diterapkan di kapal sebagai PLTN terapung, baik untuk listrik maupun propulsi kapal, sangat terbuka lebar. Kapan bisa diterapkan? Tidak tahu, tergantung regulasi internasional yang seringkali rewel secara tidak perlu.
0 komentar:
Posting Komentar